Hidayat2’s Blog

Ayo Bangkit Perawat Indonesia….

Jurnal 02

Ditulis oleh hidayat2 di/pada Januari 10, 2010

MANAGEMEN DIARE PADA BAYI DAN ANAK
( Diarrheal management in infant and children )

Subijanto MS, Reza Ranuh, Liek Djupri, Pitono Soeparto
Divisi Gastroenterologi
Lab / SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Unair / RSU Dr. Seotomo Surabaya

Abstrak
Diare pada anak masih merupakan problem kesehatan dengan angka kematian yang
masih tinggi terutama pada anak umur 1-4 tahun, yang memerlukan penatalaksanaan yang
tepat dan memadai. Secara umum penatalaksanaan diare akut ditujukan untuk mencegah dan
mengobati, dehidrasi, gangguan keseimbangan elektrolit, malabsorpsi akibat kerusakan
mukosa usus, penyebab diare yang spesifik, gangguan gizi serta mengobati penyakit penyerta.
Untuk memperoleh hasil yang baik pengobatan harus rational.
Abstract
Infantile diarrhea is still a health problem indicated by high mortality especially in
children between 1-4 years of age, that appropriate management is necessary. In general acute
diarrheal management is directed to prevent and treat dehydration, electrolyte imbalance,
malabsorption caused by mucosal injury, specific etiology of diarrhea, nutritional disturbances
and treatment of accompanying diseases. Rational management is necessary to have a good
outcome.
Pendahuluan
Sejak tahun 1992, secara umum, penyakit menular merupakan sebab dari 37,2%
kematian, diantaranya 9,8% tuberkulosa, 9,2% infeksi saluran nafas dan 7,5% diare. Namun
untuk kelompok usia 1 – 4 tahun, diare merupakan penyebab kematian terbanyak ( 23,2% )
sedangkan urutan ke dua (18,2%) penyebab kematian karena infeksi saluran nafas1. Dari data
data diatas menunjukan bahwa diare pada anak masih merupakan masalah yang memerlukan
2
penanganan yang komprehensif dan rasional. Terapi yang rasional diharapkan akan
memberikan hasil yang maksimal, oleh karena efektif, efisien dan biaya yang memadai. Yang
dimaksud terapi rasional adalah terapi yang: 1) tepat indikasi, 2) tepat obat, 3) tepat dosis, 4)
tepat penderita, dan 5) waspada terhadap efek samping obat.
Sebagian besar dari diare akut disebabkan oleh karena infeksi. Banyak dampak yang
dapat terjadi karena infeksi saluran cerna antara lain: pengeluaran toksin yang dapat
menimbulkan gangguan sekresi dan reabsorpsi cairan dan elektrolit dengan akibat dehidrasi,
gangguan keseimbangan elektrolit dan gangguan keseimbangan asam basa. Invasi dan
destruksi pada sel epitel, penetrasi ke lamina propria serta kerusakan mikrovili yang dapat
menimbulkan keadaan maldigesti dan malabsorpsi2. Dan bila tidak mendapatkan penanganan
yang adekuat pada akhirnya dapat mengalami invasi sistemik. Beberapa cara penanganan
dengan menggunakan antibiotika yang spesifik dan antiparasit, pencegahan dengan vaksinasi
serta pemakaian probiotik telah banyak diungkap di beberapa penelitian3.
Namun secara umum penanganan diare akut ditujukan untuk mencegah /
menanggulangi dehidrasi serta gangguan keseimbangan elektrolit dan asam basa, kemungkinan
terjadinya intoleransi, mengobati kausa dari diare yang spesifik, mencegah dan menanggulangi
gangguan gizi serta mengobati penyakit penyerta. Untuk melaksanakan terapi diare secara
secara komprehensif, efisien dan efektif harus dilakukan secara rasional. Secara umum terapi
rasional adalah terapi yang : 1) tepat indikasi, 2) tepat dosis, 3) tepat penderita, 4) tepat obat, 5)
waspada terhadap efek samping. Jadi penatalaksanaan terapi diare yang menyangkut berbagai
aspek didasarkan pada terapi yang rasional yang mencakup kelima hal tersebut.
A. Mencegah dan menanggulangi Dehidrasi.
Adapun tujuan dari pada pemberian cairan adalah :
1. Memperbaiki dinamika sirkulasi ( bila ada syok ).
2. Mengganti defisit yang terjadi.
3. Rumatan ( maintenance ) untuk mengganti kehilangan cairan dan elektrolit yang sedang
berlangsung ( ongoing losses ).
Pelaksanaan pemberian terapi cairan dapat dilakukan secara oral atau parenteral.
Pemberian secara oral dapat dilakukan untuk dehidrasi ringan sampai sedang dapat
menggunakan pipa nasogastrik, walaupun pada dehidrasi ringan dan sedang, bila diare profus
3
dengan pengeluaran air tinja yang hebat ( > 100 ml/kg/hari ) atau mutah hebat ( severe
vomiting ) dimana penderita tak dapat minum samasekali, atau kembung yang sangat hebat (
violent meteorism ) sehingga rehidrasi oral tetap akan terjadi defisit maka dapat dilakukan
rehidrasi panenteral walaupun sebenarnya rehidrasi parenteral dilakukan hanya untuk
dehidrasi berat dengan gangguan sirkulasi.
a. Dehidrasi Ringan – Sedang
Tahap rehidrasi
Mengganti defisit. Rehidrasi pada dehidrasi ringan dan sedang dapat dilakukan dengan
pemberian oralit sesuai dengan defisit yang terjadi4:
Dehidrasi ringan ( 5% ) : 50 ml/kg ( 4 – 6 jam pada bayi )
( 3% ) : 30 ml/kg ( 4 – 6 jam pada anak besar )
Dehidrasi sedang ( 5 – 10% ) : 50 –100 ml /kg ( 4 – 6 jam pad bayi )
( 6% ) : 60 ml/kg ( 4 – 6 jam pada anak besar )
Tahap rumatan
Dalam tahap rumatan ini meliputi untuk memenuhi kebutuhan cairan rumatan dan
kebutuhan perubahan cairan rumatan yang disebabkan oleh kehilangan cairan yang sedang
berjalan ( ongoing losses )
Kebutuhan Rumatan.
Terdapat beberapa model untuk menghitung kebutuhan cairan rumatan : berdasarkan
berat badan, luas permukaan, atau pengeluaran kalori yang seperti kita ketahui bahwa 1 ml air
diperlukan setiap 24 jam bagi setiap kalori yang dikeluarkan dan bahwa kebutuhan metabolik
menentukan penggunaannya dari cadangan tubuh. Kalori yang dikonsumsi setiap kesatuan
berat badan, atau tingkat metabolik menurun dengan bertambah besarnya dan usia anak ( Tabel
1,2 ).
4
Tabel 1. Kebutuhan Rumatan Kalori dan air per kesatuan berat badan5,6.
Rumatan
Berat badan K cal / kg / 24jam ml air/kg/24jam
10 kg pertama
10 kg ke-dua
Setiap kg penambahan BB
100
50
20
100
50
20
Untuk mengganti kehilangan cairan yang sedang berjalan ( ongoing losses ) karena
diare : 10 ml/kg bb (untuk diare infantile) dan 25 ml/kg bb (untuk kholera) untuk setiap diare
cair yang terjadi disamping pemberian makanan dan minuman sebagaimana biasanya sebelum
diare.
Oralit merupakan cairan elektrolit–glukosa yang sangat esensial dalam pencegahan dan
rehidrasi penderita dengan dehidrasi ringan–sedang3,7,8,9,10,11.
Tabel 2. Perubahan dari Kebutuhan Rumatan ( ongoing abnormal losses )5.
Faktor Perubahan dari kebutuhan
Panas
Hiperventilasi
Keringat
Diare
12 % per 0 celcius
10 – 60 ml/100 Kcal
10 – 25 ml/100 K cal
10 ml-25 ml/100 K cal
Lustig JV,1993 dengan modifikasi12.
Secara sederhana, rehidrasi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Upaya rehidrasi oral ( URO )13.
Usia Dehidrasi ringan
3 jam pertama
( defisit 50 ml/kg )
Tanpa dehidrasi – jam
Berikutnya ongoing losses
10-25 ml/kg setiap diare
bayi s/d 1th
1 th – 5 th
> 5 th
1,5 gelas
3 gelas
6 gelas
0,5 gelas
1 gelas
2 gelas
5
2. Terapi cairan standar ( Iso-hiponatremi )13.
Derajat Dehidrasi Kebutuhan cairan Jenis cairan Cara / lama
pemberian
Berat ( 10 % )
Gangguan sirkulasi
+ 30 ml/kg/jam NaCl 0,9%
RL
IV/1 jam
Sedang ( 6-9% ) + 70 ml/kg/jam NaCl 0,9%
RL
½ Darrow
IV/3 jam
IG/3 jam
( oralit )
Ringan ( 5% ) + 50 ml/kg/3jam ½ Darrow
Oralit
IV/3 jam
IG / Oral
Tanpa dehidrasi 10-20 ml/kg
Setiap diare
Oralit /
Cairan rumah tangga
oral
IV : intra vena, IG : intragastrik
Untuk neonatus ( < 3 bulan )
30 ml/kg/2jam ( D10% NaCL 0,18% )
70ml/kg/6jam ( D10% NaCL 0,18% )
Untuk diare dengan penyakit penyerta
30 ml/kg/2jam ( ½ Darrow )
70ml/kg/6jam ( ½ Darrow )
Untuk dehidrasi hipernatremi ( Kadar Na > 150 mEq/l )
Defisit (70ml ) + rumatan ( 100ml ) + 2 hari ongoing losses :
+ 320 ml/kg dalam waktu 48 jam
b. Dehidrasi Berat
Penderita dengan dehidrasi berat, yaitu dehidrasi lebih dari 10% untuk bayi dan anak
dan menunjukkan gangguan tanda-tanda vital tubuh ( somnolen-koma, pernafasan Kussmaul,
gangguan dinamik sirkulasi ) memerlukan pemberian cairan elektrolit parenteral.
6
Terapi rehidrasi parenteral memerlukan 3 tahap :
1. Terapi awal.
Bertujuan untuk memperbaiki dinamik sirkulasi dan fungsi ginjal dengan cara
re-ekspansi dengan cepat volume cairan ekstraseluler. Idealnya adalah bahwa seluruh
cairan yang diberikan hendaknya tetap berada didalam ruang vaskuler. Untuk itu
larutan elektrolit dengan kadar Na yang sama dengan darah lebih dianjurkan. Perlu
penambahan glukosa dalam cairan, karena penderita yang sakit peka untuk terjadinya
hipoglikemi dan penambahan basa untuk koreksi asidosis.
2. Terapi lanjutan.
Segera setelah sirkulasi dapat dipulihkan kembali, terapi cairan berikutnya
untuk mengkoreksi secara menyeluruh sisa defisit air dan Na serta mengganti
kehilangan abnormal dari cairan yang sedang berjalan ( ongoing losses ) serta
kehilangan obligatorik (kebutuhan rumatan). Walaupun pemberian K sudah dapat
dimulai , namun hal ini tidak esensial, dan biasanya tidak diberikan sebelum 24 jam.
Perkecualian dalam hal ini adalah bila didapatkan hipokalemia yang berat dan nyata.
Pada saat tercapainya tahap ini, kadang perlu diketahui nilai elektrolit serum sehingga
terapi cairan dapat dimodifikasi sesuai dengan kadar Na yang ada (isonatremi,
hiponatremi atau hipernatremi).
Dehidrasi Isonatremi ( Na 130 – 149 mEq/l )
Pada gangguan elektrolit ini tidak saja terdapat kehilangan eksternal Na dari
cairan ekstraseluler tetapi juga Na dari cairan ekstraseluler yang masuk kedalam cairan
intraseluler sebagai kompensasi dari kehilangan K intraseluler. Dengan demikian
pemberian Na dalam jumlah yang sama dengan kehilangannya Na dari cairan
ekstraseluler akan berlebihan dan akan menghasilkan kenaikan dari Na tubuh total dari
penderita; Na intraseluler yang berlebihan kelak akan kembali ke dalam cairan
ekstraseluler apabila diberikan K, dengan akibat terjadinya ekspansi ke ruang
ekstraseluler. Untuk menghindari hal ini, hanya 2/3 dari perkiraan hilangnya Na dan air
dari cairan ekstraseluler yang perlu diganti pada 24 jam pertama pemberian cairan.
7
Pada tahap ini disamping mengganti defisit, keseluruhan cairan dan elektrolit
yang diberikan perlu mencakup pula penggantian kehilangan cairan yang normal
(ongoing normal losses) maupun yang abnormal (ongoing abnormal losses) yang
terjadi melalui diare ataupun muntah.
Sesudah tahap penggantian defisit (sesudah 3-24 jam) tahap berikutnya adalah
tahap rumatan yang bertujuan untuk mengganti sisa kehilangan cairan dan elektrolit
secara menyeluruh dan dimulainya pemberian K.
Kebutuhan Na dan air pada tahap ini dapat diperkirakan dengan menambah 25%
pada kebutuhan rumatan normal yang diperkirakan dan dengan menambah kebutuhan
bagi kehilangan abnormal yang sedang berjalan (ongoing abnormal losses). Kehilangan
K mungkin sama dengan kehilangan Na namun hampir keseluruhan K yang hilang
adalah berasal dari cairan ekstraseluler dan harus diganti dengan memberikannya ke
dalam ruang ekstraseluler. Apabila K diberikan dengan kecepatan sebanding dengan
pemberian Na, maka dapat dipastikan bahwa akan terjadi hiperkalemi. Dengan
demikian biasanya penggantian K dilakukan dalam waktu 3 – 4 hari. K juga jangan
diberikan apabila terdapat kenaikan K serum atau sampai ginjal berfungsi dengan baik,
dalam keadaan asidosis berat pemberian K harus berhati-hati. Kecuali pada keadaan
yang hipokalemia berat, kadar K yang diberikan hendaknya tidak melebihi 40 m Eq/L
dan kecepatan pemberiannya tidak melebihi 3 m Eq/kg/24 jam14.
Dehidrasi Hiponatremi ( Na < 130mEq/l )
Keadaan ini timbul karena hilangnya Na yang relatif lebih besar dari pada air.
Kehilangan (defisit) Na ekstraseluler dapat dihitung dengan formula berikut :
Karena pasien mengalami dehidrasi, keseluruhan cairan tubuh yang
diperkirakan adalah 50 – 55% dari berat badan waktu masuk dan bukan 60% seperti
nilai biasanya. Walaupun Na pada prinsipnya merupakan kation ekstraseluler, cairan
tubuh keseluruhan (total) adalah yang dipakai untuk menghitung defisit Na. Hal ini
memungkinkan bagi penggantian Na yang hilang dari cairan ekstraseluler, untuk
Defisit Na (mEq) = (nilai Na normal – nilai Na yang diperiksa) X total cairan tubuh (dalam L).
8
ekspansi cairan ekstraseluler yang terjadi pada saat penggantian dan untuk mengganti
hilangnya Na dari tempat penimbunan pertukaran Na seperti pada tulang.
Terapi dehidrasi hiponatremi adalah sama seperti pada dehidrasi isonatremi,
kecuali pada kehilangan natrium yang berlebihan pemberian Na perlu diperhitungkan
adanya kehilangan ekstra dari ion tsb. Pemberian jumlah ekstra dari Na yang diperlukan
untuk mengganti kehilangan ekstra dapat dibagi rata dalam beberapa hari sehingga
koreksi bertahap dari hiponatremi dapat tercapai pada saat volume telah bertambah.
Kadar Na seyogyanya tidak dinaikkan secara mendadak dengan pemberian larutan
garam hipertonis kecuali bila terlihat gejala keracunan air seperti kejang. Gejala jarang
timbul kecuali bila serum Na berkurang dibawah 120 m Eq/L dan hal ini biasanya cepat
dikontrol dengan pemberian larutan Nacl 3% pada kecepatan 1 ml/menit sampai
maksimum 12 ml/kg berat badan. Larutan hipotonis perlu dihindarkan terutama pada
tahap awal pemberian cairan karena adanya resiko terjadinya hiponatremi
simptomatik14.
Dehidrasi hipertonis ( Na > 150 mEq/l )
Hiperosmolalitas yang berat dapat mengakibatkan kerusakan otak, dengan
perdarahan yang tersebar luas dan trombosis atau efusi subdural. Kerusakan serebral ini
dapat mengakibatkan kerusakan syaraf yang menetap. Bahkan tanpa kerusakan tersebut
yang nyata, sering pula timbul kejang pada pasien dengan hipernatremi. Diagnosis dari
kerusakan serebral sekunder karena hipernatremi di topang dengan ditemukan kenaikan
kadar protein dalam cairan serebrospinal.
Kejang sering pula timbul pada saat pemberian cairan karena kembalinya Na
serum menjadi normal. Hal ini dapat terjadi oleh kenaikan jumlah Na dalam sel otak
pada saat terjadinya dehidrasi, yang dalam gilirannya akan menimbulkan perpindahan
yang berlebihan dari air ke dalam sel otak pada saat rehidrasi sebelum kelebihan Na
sempat dikeluarkan, kejadian ini dapat dihindari dengan melakukan koreksi
hipernatremi secara pelan dalam waktu beberapa hari. Itulah sebabnya terapi cairan
perlu disesuaikan agar Na serum kembali normal tidak melebihi 10 m Eq/24 jam.
Defisit Na pada dehidrasi hipernatremi adalah relatif kecil dan volume cairan
ekstraseluler relatif masih tetap tak berubah sehingga jumlah air dan Na yang diberikan
9
pada tahap ini perlu dikurangi bila dibandingkan pada dehidrasi hipo-isonatremi.
Jumlah yang sesuai adalah pemberian 60 – 75 ml/kg/24 jam dari larutan 5% dektrosa
yang mengandung kombinasi bikarbonat dan khlorida.
Jumlah dari cairan dan Na rumatan perlu dikurangi dengan sekitar 25% pada
tahap ini karena penderita dengan hipernatremi mempunyai ADH (antidiuretic
hormone) yang tinggi yang menimbulkan berkurangnya volume urin.
Penggantian dan kehilangan abnormal yang sedang berjalan (ongoing abnormal
losses) tidak memerlukan modifikasi. Apabila timbul kejang, dapat diberikan Nacl 3%
3 – 5 ml/kg intravena atau manitol hipertonik.
Pada pengobatan dehidrasi hipertonis dengan memberikan sejumlah besar air,
dengan atau tanpa garam, sering menimbulkan ekspansi volume cairan ekstraseluler
sebelum terjadi ekskresi Cl yang nyata atau koreksi dari asidosis. Sebagai akibatnya
dapat terjadi sembab dan gagal jantung yang memerlukan digitalisasi.
Hipokalsemia kadang terlihat pula selama pengobatan dehidrasi hipernatremi,
hal ini dapat dicegah dengan memberikan jumlah yang cukup kalium. Tetapi sekali
timbul diperlukan pemberian kalsium (0,5 ml/kg kalsium glukonat 10%) intravena.
Komplikasi lain adalah terjadinya kerusakan tubulus ginjal dengan gejala azotemia dan
berkurangnya kemampuan konsentrasi ginjal, sehingga memerlukan modifikasi cara
pemberian terapi cairan. Walaupun dehidrasi hipernatremi dapat secara berhasil
ditangani, pengelolaannya tetap sulit dan sering terjadi kejang, meskipun cara
pemberian terapi yang terencana dengan baik14.
3. Terapi akhir (pencegahan dan terapi defisiensi nutrisi)
Walaupun pada diare terapi cairan parenteral tidak cukup bagi kebutuhan
penderita akan kalori , namun hal ini tidaklah menjadi masalah besar karena hanya
menyangkut waktu yang pendek. Apabila penderita telah kembali diberikan diet
sebagaimana biasanya, segala kekurangan tubuh akan lemak, protein akan segera dapat
dipenuhi. Itulah sebabnya mengapa pada pemberian terapi cairan diusahakan agar
penderita bila memungkinkan cepat mendapatkan makanan/minuman sebagai mana
biasanya bahkan pada dehidrasi ringan sedang yang tidak memerlukan terapi cairan
parenteral makan dan minum tetap dapat dilanjutkan (continued feeding).
10
B. Mengobati Kausa Diare
Sebagian besar kasus diare tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotika oleh
karena pada umumnya sembuh sendiri (self limiting). Antibiotika hanya diperlukan pada
sebagian kecil penderita diare misalnya kholera, shigella, karena penyebab terbesar dari
diare pada anak adalah virus (Rotavirus)6. Kecuali pada bayi berusia di bawah 2 bulan
karena potensi terjadinya sepsis oleh karena bakteri mudah mengadakan translokasi kedalam
sirkulasi, atau pada anak/bayi yang menunjukkan secara klinis gejala yang berat serta
berulang atau yang menunjukkan gejala diare dengan darah dan lendir yang jelas atau gejala
sepsis15.
Beberapa antimikroba yang sering dipakai antara lain13,16:
Kolera : Tetrasiklin 50mg/kg/hari dibagi 4 dosis ( 2 hari )
Furasolidon 5mg/kg/hari dibagi 4 dosis ( 3 hari )
Shigella : Trimetoprim 5-10mg/kg/hari
Sulfametoksasol 25-50mg/kg/hari
Dibagi 2 dosis ( 5 hari )
Asam Nalidiksat : 55mg/kg/hari dibagi 4 ( 5 hari )
Amebiasis : Metronidasol 30mg/kg/hari dibagi 4 dosis ( 5-10 hari)
Untuk kasus berat :
Dehidro emetin hidrokhlorida 1-1,5 mg/kg ( maks 90mg )
( im ) s/d 5 hari tergantung reaksi ( untuk semua umur )
Giardiasis : Metronidasol 15mg/kg/hari dibagi 4 dosis ( 5 hari )
Antisekretorik – Antidiare.
Salazar-Lindo E dkk dari Department of Pediatrics, Hospital Nacional Cayetano
Heredia, Lima, Peru, melaporkan bahwa pemakaian Racecadotril (acetorphan) yang
merupakan enkephalinase inhibitor dengan efek anti sekretorik serta anti diare ternyata
cukup efektif dan aman bila diberikan pada anak dengan diare akut oleh karena tidak
11
mengganggu motilitas usus sehingga penderita tidak kembung. Bila diberikan bersamaan
dengan cairan rehidrasi akan memberikan hasil yang lebih baik bila dibandingkan dengan
hanya memberikan cairan rehidrasi saja17. Pemberian obat loperamide sebagai antisekresiantidiare
walaupun cukup efektif tetapi sering kali disertai komplikasi kembung dengan
segala akibatnya.
Probiotik.
Probiotik (Lactic acid bacteria) merupakan bakteri hidup yang mempunyai efek yang
menguntungkan pada host dengan cara meningkatkan kolonisasi bakteri probiotik di dalam
lumen saluran cerna sehingga seluruh epitel mukosa usus telah diduduki oleh bakteri
probiotik melalui reseptor dalam sel epitel usus, sehingga tidak terdapat tempat lagi untuk
bakteri patogen untuk melekatkan diri pada sel epitel usus sehingga kolonisasi bakteri
patogen tidak terjadi. Dengan mencermati fenomena tersebut bakteri probiotik dapat dipakai
sebagai cara untuk pencegahan dan pengobatan diare baik yang disebabkan oleh Rotavirus
maupun mikroorganisme lain, pseudomembran colitis maupun diare yang disebabkan oleh
karena pemakaian antibiotika yang tidak rasional rasional (antibiotic associated diarrhea).
Mikroekologi mikrobiota yang rusak oleh karena pemakaian antibotika dapat
dinormalisir kembali dengan pemberian bakteri probiotik. Mekanisme kerja bakteri
probiotik dalam meregulasi kekacauan atau gangguan keseimbangan mikrobiota komensal
melalui 2 model kerja rekolonisasi bakteri probiotik dan peningkatan respon imun dari
sistem imun mukosa untuk menjamin terutama sistem imun humoral lokal mukosa yang
adekuat yang dapat menetralisasi bakteri patogen yang berada dalam lumen usus yang
fungsi ini dilakukan oleh secretory IgA (SIgA)18,19,20,21,22,23.
C. Mencegah / Menanggulangi Gangguan Gizi
Amatlah penting untuk tetap memberikan nutrisi yang cukup selama diare, terutama
pada anak dengan gizi yang kurang. Minuman dan makanan jangan dihentikan lebih dari 24
jam, karena pulihnya mukosa usus tergantung dari nutrisi yang cukup. Bila tidak maka hal
ini akan merupakan faktor yang memudahkan terjadinya diare kronik1. Pemberian kembali
makanan atau minuman ( refeeding ) secara cepat sangatlah penting bagi anak dengan gizi
kurang yang mengalami diare akut dan hal ini akan mencegah berkurangnya berat badan
12
lebih lanjut dan mempercepat kesembuhan. Air susu ibu dan susu formula serta makanan
pada umumnya harus dilanjutkan pemberiannya selama diare5,24,25.
Penelitian yang dilakukan oleh Lama More RA dkk menunjukkan bahwa suplemen
nukleotida pada susu formula secara signifikan mengurangi lama dan beratnya diare pada
anak oleh karena nucleotide adalah bahan yang sangat diperlukan untuk replikasi sel
teramsuk sel epitel usus dan sel imunokompeten26.
Pemberian susu rendah laktosa, formula medium laktosa atau bebas laktosa diberikan
pada penderita yang menunjukkan gejala klinik dan laboratorium intoleransi laktosa.
Intoleransi laktosa berspektrum dari yang ringan sampai yang berat dan kebanyakan adalah
tipe yang ringan sehingga cukup memberikan formula susu yang biasanya diminum dengan
pengenceran oleh karena intoleransi laktosa ringan bersifat sementara dan dalam waktu 2-3
hari akan sembuh terutama pada anak dengan gizi yang baik. Namun bila terdapat
intoleransi laktosa yang berat dan berkepanjangan tetap diperlukan susu formula bebas
laktosa untuk waktu yang lebih lama. Untuk intoleansi laktosa ringan dan sedang sebaiknya
diberikan formula susu rendah laktosa27. Penulis lain memberikan formula bebas laktosa
atau formula soya untuk penderita intoleransi laktosa sekunder oleh karena gastroenteritis,
malnutrisi protein-kalori dan lain penyebab dari kerusakan mukosa usus. Pada keadaan ini
ASI tetap diberikan4,28; namun menurut Sullivan PB, tidak perlu memberikan susu rendah
laktosa / pengenceran susu pada anak dengan diare, khususnya untuk usia di atas 1 tahun
atau yang sudah makan makanan padat29.
Sebagaimana halnya intoleransi laktosa, maka intoleransi lemak pada diare akut
sifatnya sementara dan biasanya tidak terlalu berat sehingga tidak memerlukan formula
khusus. Pada situasi yang memerlukan banyak enersi seperti pada fase penyembuhan diare,
diet rendah lemak justru dapat memperburuk keadaan malnutrisi dan dapat menimbulkan
diare kronik30.
D. Menanggulangi Penyakit Penyerta.
Anak yang menderita diare mungkin juga disertai dengan penyakit lain. Sehingga
dalam menangani diarenya juga perlu diperhatikan penyekit penyerta yang ada. Beberapa
penyakit penyerta yang sering terjadi bersamaan dengan diare antara lain : infeksi saluran
13
nafas, infeksi susunan saraf pusat, infeksi saluran kemih, infeksi sistemik lain ( sepsis,
campak ) , kurang gizi, penyakit jantung dan penyakit ginjal31.
Daftar Pustaka
1. Baker SS; Davis AM. Hypocaloric oral therapy during an episode of diarrhea and vomiting
can lead to severe malnutrition. J Pediatr Gastroenterol Nutr 1998 Jul;27(1):1-5.
2. Barkin RM. Fluid and Electrolyte Problems. Problem Oriented Pediatric Diagnosis. Boston
Little Brown and Company 1990; 20 – 23.
3. Booth IW, CuttingWAM. Current Concept in The Management of Acute Diarrhea in
Children. Postgrad Doct Asia 1984 : Dec : 268 – 274.
4. Brady MS et al. Specialised formulas and feedings for infants with malabsorpsion. J Am
Diet Assoc 1986 ; 86:191 – 200.
5. Butzner D,Butler DG, Miniats P,Hamilton JR. Impact of chronic protein calorie
malnutrition on intestinal repair after acute viral enteritis : a study ini guobiotic piglets.
Pediatr Res 1985 ; 19 : 476 – 481.
6. Castelli F; Beltrame A; Carosi G. Principles and management of the ambulatory treatment
of traveller’s diarrhea. Bull Soc Pathol Exot 1998;91(5 Pt 1-2):452-5.
7. Mahalanabis D. Oral Rehydration in Infantile Diarrhea. International Conference on Infant
Nutrition and Diarrheal Disease and Workshop on Post Graduate Paediatric Education,
Kualalumpur 1979.
8. Walker-Smith JA. Postenteritis Malabsorption. International Conference on Infant
Nutrition and Diarrheal Disease and Workshop on Post Graduate Paediatric Education,
Kualalumpur 1979. (b)
9. Tan G. Practical Therapeutics. Medical Progress 1975 ; Oct:41 – 42.
10. Finberg L,Kravath PE, Fleishman AR. Water and Electrolyte in Pediatrics.
Physiology,Pathology and Treatment. Philadelphia: WB Saunders Co. 1982;147 – 162.
11. Pickering LK. Indication for specific therapy of Children with Acute Infectious Diarrhea
In: Brunell PA ed. Report of the 13th. Ross Round Table on Critical Approach to Common
Pediatric Problems. Maryland 1981. Columbus : Ross Lab ; 101 : 23 – 29.
12. Lustig JV. Fluid & Electrolyte therapy. In : WER Hathaway,WW Hay Jr,JR Groothuis,JW
Paisley. Current Pediatric Diagnosis & Treatment 11nd. Prentice-Hall International Inc
1993; 1129 – 1140.
13. Pedoman Diagnosis dan Terapi Lab/UPF Ilmu Kesehatan Anak RSUd. Dr.Soetomo
Surabaya 1994 ; 39 – 50.
14. Mc Carthy P. Parenteral Fluid Therapy. In : RE Behrman, RM Kliegman,WE Nelson,VC
Vaughan IIIeds. Nelson Textbook of Pediatrics 14nd, Philadelphia : WB Saunders Co 1993 ;
195 – 211.
15. Soeparto P. Studi mengenai gastroenteritis akuta dengan dehidrasi pada anak melalui
pendekatan epidemiologi klinik. Disertasi. Airlangga University Press.1987.
16. Gerding DN. Treatment of Clostridium difficile-associated diarrhea and colitis. Curr Top
Microbiol Immunol 2000;250:127-139.
17. Salazar-Lindo E et al.. Racecadotril in the treatment of acute watery diarrhea in children. N
Engl J Med 2000 Aug 17;343(7):463-7.
14
18. Rani B; Khetarpaul N. Probiotic fermented food mixtures: possible applications in clinical
anti-diarrhoea usage. Nutr Health 1998;12(2):97-105.
19. Vanderhoof JA et al. Lactobacillus GG in the prevention of antibiotic-associated diarrhea
in children. J Pediatr 1999 Nov;135(5):564-8.
20. Gionchetti P; Rizzello F; Venturi A; Campieri M. Probiotics in infective diarrhoea and
inflammatory bowel diseases. J Gastroenterol Hepatol 2000 May;15(5):489-93.
21. Saavedra J. Probiotics and infectious diarrhea. Am J Gastroenterol 2000 Jan;95(1
Suppl):S16-8.
22. Davidson GP; Butler RN. Probiotics in pediatric gastrointestinal disorders. Curr Opin
Pediatr 2000 Oct;12(5): 477-481.
23. Gismondo MR et al. Review of probiotics available to modify gastrointestinal flora. Int J
Antimicrob Agents 1999 Aug;12(4): 287-92.
24. Dewan N; Faruque AS; Fuchs GJ. Nutritional status and diarrhoeal pathogen in
hospitalized children in Bangladesh. Acta Paediatr 1998 Jun; 87(6): 627-30.
25. Ziyane IS. The relationship between infant feeding practices and diarrhoeal infections. J
Adv Nurs 1999 Mar;29(3): 721-6.
26. Lama More RA; Gil-Alberdi Gonzalez B. Effect of nucleotides as dietary supplement on
diarrhea in healthy infants. An Esp Pediatr 1998 Apr;48(4):371-5.
27. Suharyono. Terapi nutrisi diare kronik Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan Ilmu
Kesehatan Anak ke. XXXI, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 1994.
28. Leake RD et al. Soy-protein formulas in the teratment of infantile diarrhea. Am J Dis Child
1974 ; 127 : 374.
29. Sullivan PB. Nutritional management of acute diarrhea. Nutrition 1998 Oct;14(10):758-
62.
30. Lifshitz. Food intolerance and sensitivity In.: Lebenthal E ed. Advances in Pediatric
Gastroenterology and Nutrition. Mead Johnson Symposium series I Excerpta Medica 1984
: 131 – 140.
31. Ditjen PPM&PLP Depkes RI. Tatalaksana Kasus Diare Bermasalah. Depkes RI 1999 ; 31.

Ditulis dalam Jurnal | Leave a Comment »

Jurnal 01

Ditulis oleh hidayat2 di/pada Januari 10, 2010

HUBUNGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF
DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BAYI USIA 1-6 BULAN DI
WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEDUNGWUNI I TAHUN 2004/2005.

Skripsi, Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Semarang.

Prioritas pembangunan kesehatan diarahkan pada upaya penurunan angka
kematian bayi. Salah satu penyebab utama kematian menurut Survey Kesehatan
Rumah Tangga (SKRT) 2001 adalah kejadian diare. Pada era sekarang 80% bayi
yang baru lahir di Indonesia tidak lagi menyusu sejak 24 jam pertama setelah
mereka lahir padahal, pemberian makanan padat pada bayi dibawah usia 4 bulan
sering menyebabkan gangguan diare. Permasalahan dalam penelitian ini adalah
apakah ada hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan kejadian diare pada
bayi usia 1-6 bulan, sedangkan tujuan diadakan penelitian ini adalah untuk
mengetahui apakah ada hubungan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian diare
pada bayi usia 1-6 bulan di wilayah kerja Puskesmas Kedungwuni I.
Jenis penelitian yang dilakukan adalah explanatory research dengan
metode survei melalui pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel
berdasarkan teknik purposive dari populasi bayi yang berusia 1-6 bulan. Untuk
mengumpulkan data yang berkaitan dengan variabel yang diteliti yaitu tentang
pemberian ASI eksklusif dan Kejadian diare dilakukan dengan memberikan
kuesioner kepada ibu bayi, kemudian data yang diperoleh diolah dan dianalisa
menggunakan uji Kendall’s tau_b, dari uji tersebut dapat diambil simpulan ada
hubungan yang signifikan jika asymp sig kurang dari 0,05 dan sebaliknya tidak
ada hubungan yang signifikan jika nilai asymp sig lebih dari 0,05.
Hasil penelitian diperoleh kategori pemberian ASI persentase tertinggi
pada bayi yang tidak diberi ASI secara eksklusif sampai minimal usia 4 bulan
sebesar 68%, sedangkan untuk kategori kejadian diare terdapat pada bayi yang
tidak mengalami kejadian diare yaitu sebesar 64%. Dari uji kendall’s tau_b
didapat koefisien korelasi sebesar 0,425 lebih kecil dari 0,5 dengan nilai asymp
sig sebesar 0.003 lebih kecil dari 0,05, sehingga dari penelitian ini dapat diambil
simpulan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pemberian ASI eksklusif
dengan kejadian diare, dimana dari uji kendall’s tau_b tersebut diketahui bahwa
semakin lama bayi diberi ASI secara eksklusif semakin kecil kemungkinan bayi
untuk terkena kejadian diare.
Saran dari penelitian ini karena masih ada pemberian ASI Eksklusif pada
bayi usia kurang dari 4 bulan, maka perlu meningkatkan frekuensi pemberian
informasi tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif sampai bayi usia 4-6
bulan. Bagi ibu-ibu balita di wilayah kerja Puskesmas Kedungwuni I harus
berusaha memberikan ASI eksklusif sampai bayi berumur minimal 4 bulan. Bagi
setiap instansi ataupun pabrik serta tempat kerja lain diharapkan dapat
memberikan kelonggaran cuti melahirkan dan kemudian memberikan ijin kepada
pekerjanya untuk menyusui anaknya dalam waktu kerja.
Kata Kunci : ASI eksklusif , Kejadian Diare
iii
HALAMAN PENGESAHAN
Telah dipertahankan dihadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu
Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang.
Pada hari : Senin
Tanggal : 15 Agustus 2005
Panitia Ujian
Ketua Panitia, Sekretaris,
DR. Khomsin, M.Pd Drs. Herry Koesyanto, M.S
NIP. 1319933872 NIP. 131571549
Dewan Penguji,
1. Eram Tunggul P, S.KM, M.Kes (Ketua)
NIP. 132303558
2. dr. Oktia Woro, KH. M.Kes (Anggota)
NIP. 131695159
3. Drs. Bambang Wahyono (Anggota)
NIP. 131674366
iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
MOTTO
“ Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang
berilmu”(QS.Al Mujadalah: 11).
“ Keberanian terbesar adalah kesabaran dan guru terbaik adalah pengalaman” (Ali bin Abi
Thalib).
“ Kenikmatan terindah adalah rasa syukur kepada Allah SWT” (Penulis).
PERSEMBAHAN
Untaian- untaian kata ini kupersembahkan untuk
1. Ayah dan ibu tercinta yang selalu menghiasi relung
jiwaku dengan segenap cinta, pengorbanan dan do’a.
2. Kakak dan adikku yang selalu memacu asaku untuk
menggapai kemilau cita-cita.
3. Keponakanku terkasih.
4. Almamaterku.
5. Rekan-rekan Wisma RHI 007.
v
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah dan Inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang
berjudul “ Hubungan Pemberian ASI Eksklusif dengan Kejadian Diare Pada Bayi
Usia 1-6 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Kedungwuni I Pekalongan Tahun
2004/2005”.
Dalam penyusunan skripsi ini, banyak pihak yang telah memberikan
bantuan yang tidak ternilai harganya. Untuk itu, penulis menyampaikan rasa
terima kasih kepada:
1. Drs. Sutardji, M.S, Dekan Fakulas Ilmu Keolahragaan yang telah memberikan
izin penelitian.
2. Ibu dr. Oktia Woro KH, M.Kes selaku Ketua Jurusan Ilmu Kesehatan
sekaligus Pembimbing I yang telah membimbing dan memberi pengarahan
hingga selesainya skripsi ini.
3. Bapak Drs. Bambang Wahyono selaku Pembimbing II atas petunjuk dan
bimbingan dalam penyelesaian skripsi ini.
4. Bapak dan Ibu Dosen jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat yang telah
memberikan bekal ilmu pengetahuan yang bermanfaat dalam rangka
penyusunan skripsi ini.
5. Ibu drg. Endang Susilowati, Kepala Puskesmas Kedungwuni I yang telah
memberikan ijin selama penelitian.
6. Masyarakat wilayah kerja Puskesmas Kedungwuni I Pekalongan yang telah
ikut berpartisipasi dalam penelitian ini.
vi
7. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini.
Akhirnya, penulis berharap mudah-mudahan skripsi ini dapat bermanfaat
bagi pembaca.
Semarang, Agustus 2005
Penulis
vii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ……………………………………………………………………. i
SARI ………………………………………………………………………………………….. ii
HALAMAN PENGESAHAN ……………………………………………………….. iii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN …………………………………………………. iv
KATA PENGANTAR ………………………………………………………………….. v
DAFTAR ISI ………………………………………………………………………………. vii
DAFTAR TABEL ……………………………………………………………………….. x
DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………………………. xi
DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………………………… xii
BAB I PENDAHULUAN ……………………………………………………………. 1
1.1 Latar Belakang ………………………………………………………………………. 1
1.2 Permasalahan …………………………………………………………………………. 5
1.3 Tujuan Penelitian ……………………………………………………………………. 5
1.4 Penegasan Istilah ……………………………………………………………………. 5
1.5 Manfaat Penelitian ………………………………………………………………….. 6
BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS ……………………………. 7
2.1 Landasan Teori ………………………………………………………………………. 7
2.1.1 Air Susu Ibu (ASI) ……………………………………………………………….. 7
2.1.1.1 Pengertian ASI …………………………………………………………………… 7
2.1.1.2 Komposisi ASI ………………………………………………………………….. 8
2.1.1.3 Volume ASI ………………………………………………………………………. 9
2.1.1.4 Aspek Imunologik ASI ……………………………………………………….. 10
2.1.1.5 Penggunaan ASI secara Tepat ………………………………………………. 13
2.1.1.6 Faktor faktor yang Mempengaruhi Penggunan ASI ………………….. 14
viii
2.1.2 Pemberian ASI Eksklusif ……………………………………………………….. 14
2.1.2.1 Pengertian Pemberian ASI eksklusif ………………………………………. 14
2.1.2.2 Manfaat Pemberian ASI Eksklusif Bagi Bayi ………………………….. 15
2.1.3 Minuman Buatan Sebagai Pengganti ASI …………………………………. 17
2.1.4 Diare …………………………………………………………………….. 18
2.1.4.1 Definisi Diare …………………………………………………………….. 18
2.1.4.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Diare ………………….. 19
2.1.4.3 Pencegahan Penyakit Diare ………………………………………………….. 20
2.1.5 Hubungan Pemberian ASI Eksklusif dengan Kejadian Diare ……….. 21
2.1.6 Kerangka Teori…………………………………………………………………….. 22
2.2 Hipotesis ……………………………………………………………………………….. 23
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ……………………………………… 24
Populasi Penelitian ……………………………………………………………………
24
Sampel Penelitian……………………………………………………………………..
24
Variabel Penelitian ……………………………………………………………………
25
Rancangan Penelitian ……………………………………………………………….. 26
Prosedur Penenelitian ……………………………………………………………….. 26
Teknik Pengumpulan Data ………………………………………………………… 27
Alat Pengumpul Data ……………………………………………………………….. 28
Pengolahan Data ………………………………………………………………………
29
Validitas dan Reliabiitas Data ……………………………………………………. 30
Analisis Data …………………………………………………………………………..
31
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ……………………. 33
4.1 Deskripsi Data ………………………………………………………………………. 33
ix
4.2 Hasil Penelitian ……………………………………………………………………… 33
4.2.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ………………………………………… 33
4.2.2 Karakterisik Sampel ……………………………………………………………… 37
4.3 Pembahasan ………………………………………………………………………….. 42
BAB V SIMPULAN DAN SARAN ……………………………………………….. 50
Simpulan ………………………………………………………………………………… 50
Saran ……………………………………………………………………………………… 50
DAFTAR KEPUSTAKAAN ………………………………………………………….. 52
LAMPIRAN-LAMPIRAN ……………………………………………………………… 54
x
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Tabel Kenaikan Berat Badan Rata-Rata menurut Umur ……………….. 13
2. Tabel Jumlah Bayi Usia 1-6 bulan menurt Desa di Wilayah Kerja Puskesmas
Kedungwuni I Pekalongan ………………………………………………………. 35
xi
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Kerangka Teori …………………………………………………………………… 24
2. Grafik Distribusi Sampel menurut Pemberian ASI Eksklusif ……… 37
3. Grafik Distribusi Sampel menurut Jenis Kelamin ……………………… 38
4. Grafik Distribusi Sampel menurut Kelompok Umur …………………. 39
5. Grafik Distribusi Sampel menurut Kejadian Diare ……………………. 39
6. Grafik Distribusi Sampel menurut Pemberian Kolostrum …………… 40
7. Grafik Distribusi Sampel menurut Alasan Tidak Diberikannya ASI
Eksklusif …………………………………………………………………………… 40
8. Grafik Distribusi Sampel menurut Kebersihan Penyediaan Makanan atau
Minuman Pengganti ASI ……………………………………………………… 41
9. Grafik Distribusi Pemberian ASIEksklusif dengan Kejadian Diare 42
xii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. Kuesioner Penyaring……………………………………………………………. 55
2. Kuesioner Utama ………………………………………………………………… 57
3. Data Kasar Validitas dan Reliabitas Kuesioner Penyaring ………….. 61
4. Hasil validitas dan Reliabilitas Kuesioner Penyaring ………………… 62
5. Data Kasar Validitas dan Reliabitas Kuesioner Utama ……………… 63
6. Hasil validitas dan Reliabilitas Kuesioner Utama. …………………….. 64
7. Penentuan Kriteria Deskritif Hasil Penelitian …………………………… 65
8. Tabulasi Data Hasil Penelitian ………………………………………………. 66
9. Tabel Frekuensi Hasil Penelitian ……………………………………………. 68
10. Tabel Crosstab dan korelasi non parametrik pemberian ASI eksklusif
dengan kejadia diare ……………………………………………………………. 70
11. Tabel Product Moment ………………………………………………………… 71
12. Surat Ijin Penelitian dari Badan Peencanaan Daerah Kabupaten
Pekalongan ………………………………………………………………………… 72
13. Surat Keterangan telah mengadakan Penlitian di Wilayah Kera Puskesmas
Kedungwuni I Pekalongan ……………………………………………………. 73
14. Surat Pengangkatan atau penguji Skripsi…………………………………. 74
15. Surat Undangan Dosen Penguji……………………………………………… 75
16. Peta Wilayah Kerja Puskesmas Kedungwuni …………………………… 76
xiii
1
BAB I
P E N DA H U L U A N
1.1 Latar Belakang
Prioritas pembangunan kesehatan diarahkan pada upaya penurunan angka
kematian bayi dan balita. Dalam dokumen Propenas 2000-2004 upaya-upaya ini
termaktub dalam tiga program pembangunan kesehatan nasional, yaitu program
kesehatan lingkungan, perilaku sehat dan pemberdayaan masyarakat; program
upaya kesehatan; serta perbaikan gizi masyarakat (UNDP, 2004:5).
Pada beberapa dekade terakhir ini, Indonesia telah mengalami kemajuan
yang signifikan dalam upaya penurunan angka kematian bayi. Pada tahun 1960,
Angka Kematian Bayi (AKB) Indonesia adalah 128 per 1000 kelahiran. Angka ini
turun menjadi 68 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 1989, 57 per 1000
kelahiran hidup pada tahun 1992 dan 46 per 1000 kelahiran hidup pada tahun
1995 (UNDP, 2004:2).
Meskipun angka pencapaian penurunan kematian telah begitu
menggembirakan, namun tingkat kematian di Indonesia masih tergolong tinggi
jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN, yaitu 4,6 kali lebih tinggi dari
Malaysia, 1,3 kali lebih tinggi dari Filipina dan 1,8 kali lebih tinggi dari Thailand.
Oleh karena itu sampai saat ini, upaya penurunan angka kematian bayi dan balita
tetap merupakan salah satu prioritas dalam pembangunan kesehatan. (UNDP,
2004:2).
2
Salah satu penyebab utama kematian di Indonesia menurut Survei
Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1995 yang dikutip (Nuraini Irma Susanti,
2004:1) adalah kejadian diare. Demikian juga pada tahun 2001, kejadian diare
masih merupakan penyebab utama kematian bayi seperti pada periode
sebelumnya. Sedangkan kejadian diare pada bayi menurut (Nuraini Irma Susanti,
2004:1) dapat disebabkan karena kesalahan dalam pemberian makan, dimana bayi
sudah diberi makan selain ASI sebelum berusia 4 bulan. Perilaku tersebut sangat
beresiko bagi bayi untuk terkena diare karena alasan sebagai berikut; (1)
pencernaan bayi belum mampu mencerna makanan selain ASI, (2) bayi
kehilangan kesempatan untuk mendapatkan zat kekebalan yang hanya dapat
diperoleh dari ASI serta yang ke (3) adanya kemungkinan makanan yang
diberikan bayi sudah terkontaminasi oleh bakteri karena alat yang digunakan
untuk memberikan makanan atau minuman kepada bayi tidak steril. Berbeda
dengan makanan padat ataupun susu formula, ASI bagi bayi merupakan makanan
yang paling sempurna. Pemberian ASI secara dini dan eksklusif sekurangkurangnya
4-6 bulan akan membantu mencegah penyakit pada bayi. Hal ini
disebabkan karena adanya antibodi penting yang ada dalam kolostrum dan ASI
(dalam jumlah yang sedikit). Selain itu ASI juga selalu aman dan bersih sehingga
sangat kecil kemungkinan bagi kuman penyakit untuk dapat masuk ke dalam
tubuh bayi (General Java Online, 2004:1).
Pada era sekarang 80% bayi di Indonesia tidak lagi menyusu sejak 24 jam
pertama sejak mereka lahir, dimana seharusnya ibu memberikan ASI yang
merupakan makanan utama yang sangat diperlukan bayi. Berdasarkan hasil
3
penelitian Unicef di Indonesia setelah krisis ekonomi dilaporkan bahwa hanya
14% bayi yang disusui dalam 12 jam setelah kelahiran. Kolostrum dibuang oleh
kebanyakan ibu karena dianggap kotor dan tidak baik bagi bayi. Unicef juga
mencatat penurunan yang tajam dalam menyusui berdasarkan tingkat umur dari
pengamatannya diketahui bahwa 63% disusui hanya pada bulan pertama, 45%
bulan kedua, 30% bulan ketiga, 19% bulan keempat, 12% bulan kelima dan hanya
6% pada bulan keenam bahkan lebih dari 200.000 bayi atau 5% dari populasi bayi
di Indonesia saat itu tidak disusui sama sekali (MM Novaria, 2005:2).
Hasil penelitian terhadap 900 ibu disekitar Jabotabek (1995) diperoleh
fakta bahwa yang dapat memberikan ASI eksklusif selama 4 bulan pertama
kelahiran bayi hanya sekitar 5%, padahal 98% ibu-ibu tersebut menyusui bayinya.
Dari penelitian tersebut juga didapatkan bahwa 37,9% ibu-ibu tidak pernah
mendengar informasi tentang ASI sedangkan 70,4% ibu-ibu tidak pernah
mendengar informasi tentang ASI eksklusif (Utami Roesli , 2001:21).
Berdasarkan hasil penelitian Utami Roesli terhadap ibu-ibu yang
menghentikan pemberian ASI eksklusif kepada bayinya dilaporkan bahwa alasan
yang paling sering dikemukakan oleh masyarakat tidak memberikan ASI
eksklusif sampai bayi berusia minimal 4 bulan yaitu karena merasa ASI tidak
cukup untuk memenuhi kebutuhan bayinya walaupun sebenarnya hanya sedikit
sekali (2-5%) yang secara biologis memang kurang produksi ASInya. Alasan
berikutnya yaitu karena ibu bekerja untuk mereka beranggapan bahwa ASI saja
tidak cukup untuk kebutuhan hidup bayi, takut di tinggal suami, tidak di beri ASI
4
tetap berhasil “jadi orang”, takut bayi akan tumbuh menjadi anak yang tumbuh
manja (Utami Roesli, 2000:47).
Proses menyusui memerlukan pengetahuan dan latihan yang tepat, supaya
proses menyusui dapat berjalan dengan baik, namun sering kali proses menyusui
dilakukan tidak tepat, akhirnya ASI tidak keluar dan ibu tidak mau menyusui dan
bayinya pun tidak mau menyusu (Utami Roesli, 2001:65). Tidak heran bila hasil
survei membuktikan masih sedikit bayi yang menerima ASI eksklusif sampai bayi
berusia minimal 4 bulan. Dari Hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia
(SDKI) 1997 tercatat bahwa pemberian ASI eksklusif sampai bayi berumur 4
bulan di Indonesia hanya 52%. Memang, angka pencapaian tersebut telah
meningkat sebesar 36% bila dibandingkan dengan hasil survei serupa yang
diadakan oleh WHO (World Health Organization) pada tahun 1986. Namun, bila
dibandingkan dengan target yang harus segera dicapai pada tahun 2020, angka
pencapaian tersebut belum menggembirakan, karena belum mencapai target 80%.
(BKKBN, 2002:1).
Data mengenai kejadian diare dari Dinas Kesehatan Kabupaten
Pekalongan tahun 2004 diketahui bahwa jumlah penderita diare semua umur
sebanyak 20.900 jiwa yang tersebar di 24 Puskesmas. Wilayah kerja Puskesmas
Kedungwuni I persentase penderita diare bayinya sebesar 19,17%, jumlah
tersebut paling besar bila dibandingkan 23 Puskesmas lainnya. Berdasarkan latar
belakang diatas, penulis tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui apakah
ada hubungan antara pemberian ASI secara eksklusif dengan kejadian diare pada
5
bayi usia 1-6 bulan di Wilayah kerja Puskesmas Kedungwuni I Pekalongan pada
tahun 2004/2005.
1.2 Permasalahan
Pada prinsipnya suatu penelitian tidak terlepas dari permasalahan,
sehingga perlu kiranya masalah tersebut untuk diteliti, dianalisis dan dipecahkan.
Setelah diketahui dan dipahami latar belakang masalahnya, maka yang menjadi
permasalahan dalam penelitian ini yaitu: Apakah ada hubungan antara pemberian
ASI eksklusif dengan kejadian diare pada bayi usia 1-6 bulan di wilayah kerja
Puskesmas Kedungwuni I Pekalongan tahun 2004/2005?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada
hubungan antara pemberian ASI eksklusif ngan kejadian diare pada bayi usia 1-6
bulan di wilayah kerja Puskesmas Kedungwuni I Pekalongan tahun 2004/2005.
1.4 Penegasan Istilah
Agar tidak terjadi penafsiran yang berbeda perlu ditegaskan beberapa
istilah sebagai berikut:
1. Pemberian ASI eksklusif.
Pemberian ASI eksklusif yaitu bayi yang hanya diberi ASI saja tanpa
tambahan cairan lain seperti, susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih, dan
6
tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit,
bubur nasi, dan nasi tim (Utami Roesli 2001:1).
2. Kejadian Diare.
Kejadian diare merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan adanya
konsistensi tinja yang melembek sampai cair dan frekuensi buang air besar
(defekasi) bertambah lebih dari biasanya (lebih dari 3 kali dalam sehari) (Siti
Habsyah Masri 2004:1).
3. Bayi usia 1-6 bulan.
Bayi usia 1-6 bulan adalah bayi yang sudah berusia 1 bulan sampai bayi yang
sudah berusia tepat 6 bulan (UNICEF, 2005:1).
1.5 Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Sebagai pengalaman langsung dalam melakukan penelitian dan dapat
menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh.
2. Bagi Masyarakat
Masyarakat memahami tentang pentingnya pemberian ASI secara eksklusif
sebagai modal dasar bagi kelangsungan hidup dan tumbuh kembang seorang
anak.
3. Bagi Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat
Sebagai tambahan kepustakaan dalam pengembangan Ilmu Kesehatan
Masyarakat.
7
BAB II
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS
2.1 LandasanTeori
2.1.1 Air Susu Ibu (ASI)
2.1.1.1 Pengertian ASI
Secara alamiah, seorang ibu mampu menghasilkan Air Susu Ibu (ASI)
segera setelah melahirkan. ASI diproduksi oleh alveoli yang merupakan bagian
hulu dari pembuluh kecil air susu. ASI merupakan makanan yang paling cocok
bagi bayi karena mempunyai nilai gizi yang paling tinggi dibandingkan dengan
makanan bayi yang dibuat oleh manusia ataupun susu yang berasal dari hewan
seperti susu sapi, susu kerbau, atau susu kambing. Pemberian ASI secara penuh
sangat dianjurkan oleh ahli gizi diseluruh dunia. Tidak satupun susu buatan
manusia (susu formula) dapat menggantikan perlindungan kekebalan tubuh
seorang bayi, seperti yang diperoleh dari susu kolostrum (Diah Krisnatuti dan
Yeni Yenrina, 2001:5).
Pernyataan tersebut didukung oleh Syahmien Moehji (2002:23) yang
mengatakan bahwa ASI merupakan makanan yang mutlak untuk bayi yaitu pada
usia 4-6 bulan pertama kehidupannya. ASI mengandung semua zat gizi yang
diperlukan oleh bayi dengan komposisi yang sesuai dengan kebutuhan bayi. Jika
dibandingkan dengan susu sapi, Air Susu Ibu (ASI) mempunyai kelebihan antara
lain mampu mencegah penyakit infeksi, ASI mudah didapat dan tidak perlu
8
dipersiapkan terlebih dahulu. Melalui ASI dapat dibina kasih sayang, ketentraman
jiwa bagi bayi yang sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan jiwa
bayi. Dengan demikian ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi dan
mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki oleh susu sapi.
Oleh karena itu ASI harus diberikan pada bayi, sekalipun produksi ASI
pada hari-hari pertama baru sedikit, namun mencukupi kebutuhan bayi.
Pemberian air gula, air teh, air tajin dan makanan prelaktal (sebelum ASI lancar
produksi) lain, harus dihindari untuk mendapatkan manfaat maksimal dari ASI,
maka sebaiknya menyusui dilakukan setelah bayi lahir (dalam waktu 30 menit
setelah bayi lahir) karena daya hisap pada saat itu paling kuat untuk merangsang
pengeluaran ASI selanjutnya (Utami Roesli, 2000:12).
2.1.1.2 Komposisi ASI.
ASI memiliki komposisi yang berbeda-beda dari hari ke hari.
1. Kolostrum.
Kolostrum merupakan cairan pertama yang berwarna kekuning-kuningan
(lebih kuning dibandingkan susu matur). Cairan ini dari kelenjar payudara dan
keluar pada hari kesatu sampai hari keempat-tujuh dengan komposisi yang
selalu berubah dari hari kehari. Kolostrum mengandung zat anti infeksi 10-17
kali lebih banyak dibandingkan ASI matur. Selain itu, kolostrum dapat
berfungsi sebagai pencahar yang ideal untuk membersihkan zat yang tidak
terpakai dari usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan
makanan bayi bagi makanan yang akan datang.
9
2. ASI Transisi (Peralihan).
ASI transisi diproduksi pada hari ke-4 sampai 7 hari ke-10 sampai 14. Pada
masa ini kadar protein berkurang, sedangkan kadar karbohidrat dan lemak
serta volumenya semakin meningkat.
3. ASI Mature.
ASI mature merupakan ASI yang diproduksi sejak hari ke-14 dan seterusnya
dengan komposisi yang relatif konstan. Pada ibu yang sehat dan memiliki
jumlah ASI yang cukup, ASI ini merupakan makanan satu-satunya yang paling
baik bagi bayi sampai umur enam bulan (Utami Roesli, 2001:25).
2.1.1.3 Volume ASI
Hasil penyelidikan Suhardjo yang dikutip oleh Yeni Yenrina dan Diah
Krisnatuti (2002:9), volume ASI dari waktu ke waktu berubah, yaitu:
1 Enam bulan pertama : 500-700 ml ASI/ 24 jam
2 Enam bulan kedua : 400-600 ml ASI/ 24 jam
3 Setelah satu tahun : 300-500ml ASI/ 24 jam
Menurut Deddy Muchtadi (1996:30) bahwa dalam kondisi normal kirakira
100 ml ASI pada hari kedua setelah melahirkan, dan jumlahnya akan
meningkat sampai kira-kira 500 ml dalam minggu kedua. Secara normal,
produksi ASI yang efektif dan terus-menerus akan dicapai pada kira-kira 10-14
hari setelah melahirkan. Selama beberapa bulan berikutnya bayi yang sehat akan
mengkonsumsi sekitar 700-800 ml ASI setiap 24 jam.
Volume ASI yang dapat dikonsumsi bayi dalam satu kali menyusu
selama sehari penuh sangat bervariasi. Ukuran payudara tidak ada hubungannya
10
dengan volume air susu yang dapat diproduksi, meskipun umumnya payudara
yang berukuran sangat kecil, terutama yang ukurannya tidak berubah selama
masa kehamilan, hanya memproduksi sejumlah kecil ASI. Emosi seperti tekanan
(stress) atau kegelisahan merupakan faktor penting yang mempengaruhi jumlah
produksi ASI selama minggu-minggu pertama menyusui.
2.1.1.4 Aspek Imunologik Air Susu Ibu.
Imunoglobulin adalah suatu golongan protein yang mempunyai daya zat
anti terhadap infeksi. Di dalam tubuh manusia terdapat 5 macam imunoglobulin.
1. Imunoglobulin G.
IgG sudah terbentuk pada kehamilan bulan ketiga, dapat menembus plasenta
pada waktu bayi lahir kadarnya sudah sama dengan kadar IgD ibunya. Fungsi
dari pada IgG ini ialah anti bakteri, anti jamur, anti virus dan anti toksik.
2. Imunoglobulin M.
IgM mulai dibentuk pada kehamilan minggu ke-14 dan mencapai kadar seperti
orang dewasa pada umur 1-2 tahun. Fungsi dari pada IgM ini ialah untuk
aglutinasi.
3. Imunoglobulin A.
IgA sudah dibentuk pula oleh janin tetapi jumlahnya masih sangat sedikit. Ada
2 macam IgA ialah serum (di dalam darah) dan IgA sekresi (berasal dari sel
mokosa) yang selanjutnya disebut SigA. IgA serum mencapai kadar seperti
pada orang dewasa pada usia 12 tahun, sedangkan SigA sudah mencapai
puncaknya pada usia 1 tahun.
11
4. Imunoglobulin D.
IgD belum banyak diketahui, baik pembentukannya maupun fungsinya.
5. Imunoglobulin E.
IgE belum diketahui tetapi diduga berfungsi seperti anti alergik.
6. Perpindahan Immunoglobulin dari Ibu ke Bayi.
Terdapat bukti yang nyata bahwa ada hubungan yang erat antara
imunoglobulin ibu dan anak, baik pada manusia maupun pada binatang
menyusui (mamalia). Selama janin masih didalam kandungan, janin telah
mendapat imunoglobulin dari pada ibunya melalui plasenta, terutama
imunoglobulin G, oleh karena itulah janin tidak pernah sakit (infeksi) selama
didalam kandungan (Sunoto 2001:17).
Selain imunoglobulin, ASI mengandung pula faktor-faktor kekebalan
seperti berikut ini:
1. Faktor Bifidus
Merupakan suatu karbohidrat yang mengandung nitrogen, diperlukan untuk
pertumbuhan bakteri Lactobacillus bifidus. Dalam usus bayi yang diberi ASI,
bakteri ini mendominasi flora bakteri dan memproduksi asam laktat dari
laktosa. Asam laktat ini akan menghambat pertumbuhan bakteri yang
berbahaya dan parasit lainnya (Deddy Muchtadi, 1996:36).
2. Faktor Laktoferin
Suatu protein yang mengikat zat besi ditemukan terdapat dalam ASI. Zat besi
yang terikat tersebut tidak dapat digunakan oleh bakteri-bakteri usus yang
berbahaya, yang membutuhkannya untuk pertumbuhan. Oleh karena itu,
12
pemberian zat besi tambahan kepada bayi yang disusui harus dicegah, karena
mungkin dapat mempengaruhi daya perlindungan yang diberikan laktoferin
(Deddy Muchtadi, 1996:30).
3. Faktor Laktospirosidase
Merupakan enzim yang terdapat dalam ASI dan bersama-sama dengan
peroksidase hydrogen dan ion tiosinat membantu membunuh streptokokus
(Solihin Pudjiadi, 2003:15).
4. Faktor Anti Stafilokokus
Faktor tersebut merupakan asam lemak yang melindungi bayi terhadap
penyerbuan stafilokokus (Solihin Pudjiadi, 2003:15).
5. Faktor Sel -Sel Fagosit
Merupakan pemakan bakteri yang bersifat patogen (Diah Krisnatuti dan Yeni
Yenrina, 2001:7)
6. Sel Limfosit dan Makrofag
Berfungsi untuk mengeluarkan zat antibodi untuk meningkatkan imunitas
terhadap penyakit (Diah Krisnatuti dan Yeni Yenrina, 2001:7)
7. Lisozim
Lisozim merupakan salah satu enzim yang terdapat dalam ASI sebanyak 6-300
mg/100 ml, dan kadarnya bisa naik hingga 3000-5000 kali lebih banyak
dibandingkan dengan kadar lisozim dalam susu sapi. Enzim demikian
memiliki fungsi bakteriostatik terhadap enterobakteria dan kuman gram
negatif mungkin juga berperan sebagai pelindung terhadap berbagai macam
virus.
13
8. Interferon
Berfungsi menghambat pertumbuhan virus (Diah Krisnatuti dan Yeni Yenrina,
2001:7).
2.1.1.5 Penggunaan ASI secara Tepat
ASI betapapun baik mutunya sebagai makanan bayi, tapi belumlah
merupakan jaminan bahwa gizi selalu baik, kecuali apabila ASI tersebut
diberikan secara tepat dan benar (Sjahmien Moehji, 2002:19). Ibu tidak dapat
melihat berapa banyak ASI yang telah masuk ke perut bayi (Joan Nelson,
2001:49)
Untuk mengetahui banyaknya produksi ASI, beberapa kriteria yang dapat
dipakai sebagai patokan untuk mengetahui jumlah ASI cukup atau tidak yaitu:
1. Air Susu Ibu yang banyak dapat merembes keluar melalui puting
2. Sebelum disusukan payudara merasa tegang
3. Berat badan naik dengan memuaskan sesuai dengan umur, untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 1
Kenaikan berat padan rata-rata menurut Umur
Umur Kenaikan Berat Badan Rata-Rata
1-3 bulan 700 gr/ bulan
4-6 bulan 600 gr/ bulan
7-9 bulan 400 gr/ bulan
Sumber: Soetjiningsih(1997:20).
4. Jika ASI cukup, setelah menyusu bayi akan tertidur tenang selama 3-4 jam
5. Bayi kencing lebih sering, sekitar 8 kali sehari (Soetjiningsih, 1997:20).
14
2.1.1.6 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan ASI.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi ibu memberikan ASI kepada bayinya
antara lain:
1. Perubahan sosial budaya.
1) Ibu-ibu bekerja atau kesibukan sosial lainnya.
2) Meniru teman, tetangga atau orang terkemuka yang memberikan susu botol.
2. Faktor psikologis
1) Takut kehilangan daya tarik sebagai seorang wanita.
2) Tekanan batin
3. Faktor fisik ibu
Ibu sakit, seperti mastitis biasanya enggan menyusui bayinya karena
payudaranya terasa nyeri bila digunakan untuk menyusui bayinya.
4. Faktor kurangnya petugas kesehatan, sehingga masyarakat kurang mendapat
penerangan atau dorongan tentang manfaat pemberian ASI.
5. Meningkatkan promosi susu kaleng sebagai pengganti ASI.
6. Penerangan yang salah justru datangnya dari petugas kesehatan sendiri yang
menganjukan penggantian ASI dari susu kaleng (Soetjiningsih, 1997:17).
2.1.2 Pemberian ASI Eksklusif
2.1.3.1 Pengertian pemberian ASI Eksklusif
ASI eksklusif atau lebih tepatnya pemberian ASI secara eksklusif adalah
bayi hanya diberi ASI saja, tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula,
15
jeruk, madu, air teh, air putih, dan tanpa tambahan makanan padat seperti pisang,
pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi, dan tim (Utami Roesli 2000:3)
Pemberian ASI eksklusif ini dianjurkan untuk jangka waktu minimal 4
bulan dan akan lebih baik lagi apabila diberikan sampai bayi berusia 6 bulan.
Setelah bayi berusia 6 bulan ia harus mulai diperkenalkan dengan makanan padat,
dan pemberian ASI dapat diteruskan sampai ia berusia 2 tahun (Utami Roesli,
2001:1).
2.1.3.2 Manfaat Pemberian ASI Eksklusif Bagi Bayi.
Menurut Utami Roesli (2001:31), manfaat pemberian ASI sangat banyak
antara lain:
1. Sebagai Nutrisi Terbaik.
ASI merupakan sumber gizi yang sangat ideal dengan komposisi yang
seimbang karena disesuaikan dengan kebutuhan bayi pada masa
pertumbuhannya. ASI adalah makanan yang paling sempurna, baik kualitas
maupun kuantitasnya. Dengan melaksanakan tata laksana menyusui yang tepat
dan benar, produksi ASI seorang ibu akan cukup sebagai makanan tunggal
bagi bayi normal sampai dengan usia 6 bulan. Meningkatkan Daya Tahan
Tubuh
Bayi yang baru lahir secara alamiah mendapat zat kekebalan atau daya tahan
tubuh dari ibunya melalui plasenta. Tetapi kadar zat tersebut akan cepat
menurun setelah kelahiran bayi. Sedangkan kemampuan bayi membantu daya
tahan tubuhnya sendiri menjadi lambat, selanjutnya akan terjadi kesenjangan
daya tahan tubuh. Kesenjangan tersebut dapat diatasi apabila bayi diberi ASI
16
sebab ASI adalah cairan yang mengandung zat kekebalan tubuh yang dapat
melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi bakteri, virus, dan jamur.
2. Tidak mudah tercemar
ASI steril dan tidak mudah tercemar, sedangkan susu formula mudah dan
sering tercemar bakteri, terutama bila ibu kurang mengetahui cara pembuatan
susu formula yang benar dan baik.
3. Melindungi bayi dari infeksi
ASI mengandung berbagai antibodi terhadap penyakit yang disebabkan
bakteri, virus, jamur dan parasit yang menyerang manusia..
4. Mudah dicerna
ASI mudah dicerna, sedangkan susu sapi sulit dicerna karena tidak
mengandung enzim pencerna.
5. Menghindarkan bayi dari alergi
Bayi yang diberi susu sapi terlalu dini mungkin menderita lebih banyak
masalah alergi, misalnya asma dan alergi.
2.1.3 Minuman Buatan sebagai Pengganti Air Susu Ibu
Betapapun baiknya ASI sebagai makanan bayi dan keberatan para ahli
kesehatan anak di seluruh dunia terhadap penggunaan susu sapi sebagai makanan
bayi, akan tetapi dalam keadaan tertentu, susu sapi akan sangat diperlukan
sebagai minuman buatan untuk bayi. Karena itu, perlulah diketahui dalam
keadaan apakah ASI dapat diganti dengan minuman buatan.
17
Menurut Syahmien Moehji (2002:41), minuman buatan yang terbuat dari
susu hewan terutama susu sapi, dapat diberikan kepada bayi sebagai pelengkap
atau sebagai pengganti ASI dalam keadaan sebagai berikut:
1. Air susu ibu tidak keluar sama sekali, dalam keadaan seperti ini satu-satunya
makanan yang dapat menggantikan ASI adalah susu sapi.
2. Ibu meninggal sewaktu melahirkan atau waktu bayi masih memerlukan ASI.
3. ASI keluar tetapi jumlahnya tidak cukup untuk memenuhi bayi karena itu
perlu tambahan.
Pemberian makanan atau minuman pengganti ASI berbahaya bagi bayi
karena saluran pencernaan bayi belum cukup kuat untuk mencernakan makanan
atau minuman selain ASI (Dep Kes, 1997:11).
Selain karena sulitnya dicerna, bahaya lain dari pemberian susu formula
bagi bayi yaitu karena selama penyiapan susu formula ada kemungkinan
terkontaminasi oleh bakteri dan terlalu encernya air susu dapat terjadi. Umumnya
sulit untuk memberikan susu formula kepada bayi secara higienis. Namun
kemungkinan adanya kontaminasi oleh bakteri dapat berkurang dengan
memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Dot botol.
Karena dot botol mudah terkontaminasi, maka sebaiknya dot botol harus
terbuat dari bahan yang bermutu tinggi dan tahan terhadap proses pendidihan.
Lubang pada dot harus dapat mengeluarkan air susu dengan kecepatan yang
tetap (konstan) bila botol dibalikkan.
18
2. Pencucian alat.
Cuci semua alat makan atau minum bayi segera setelah digunakan,
menggunakan air dingin dan sabun atau detergen dengan memakai sikat botol.
Dot botol dilumuri dengan garam untuk menghilangkan gumpalan susu. Lalu
semuanya dicuci dengan baik.
3. Sterilisasi alat.
Setelah itu sterelisasi dengan air mendidih kemudian letakkan peralatan
termasuk dot botol dalam satu wadah yang berisi air sepertiganya, kemudian
penuhi dengan air dan didihkan selama 5 menit. Tiriskan dan keringkan, dan
simpan dalam keadaan tertutup sampai saatnya digunakan. Apabila dirasakan
tidak praktis untuk mendidihkannya setiap habis digunakan, maka pendidihan
satu atau dua kali dalam sehari sudah cukup.
Bila sterilisasi dengan cara pendidihan tidak mungkin dilakukan, alat
seperti diatas dapat dicuci menggunakan air panas, kemudian dibilas dengan air
minum (air matang yang telah dingin) atau larutan garam. Setelah itu ditiriskan
dan dikeringkan, serta peralatan diletakkan dalam keadaan tertutup. Usahakan
untuk melakukan pendidihan paling tidak sekali dalam sehari.
2.1.4 Diare
2.1.4.1 Definisi Diare
Diare merupakan suatu penyakit dengan tanda-tanda adanya perubahan
bentuk dan konsistensi tinja yang cair dan frekuensi buang air besar lebih dari
biasanya (3 kali dalam sehari), namun tak selamanya mencret dikatakan diare.
19
Misalnya pada bayi yang berusia kurang dari sebulan, yang bisa buang air hingga
lima kali sehari dan fesesnya lunak (Siti Habsyah Masri, 2004:1).
Selain itu beliau juga menjelaskan bahwa diare merupakan mekanisme
perlindungan tubuh untuk mengeluarkan sesuatu yang merugikan atau racun dari
dalam tubuh, namun banyaknya cairan tubuh yang dikeluarkan bersama tinja
akan mengakibatkan dehidrasi yang dapat berakibat kematian.
Oleh karena itu, diare tidak boleh dianggap sepele, keadaan ini harus
dihadapi dengan serius mengingat cairan banyak keluar dari tubuh, sedangkan
tubuh manusia pada umumnya 60% terdiri dari air, sebab itu bila seseorang
menderita diare berat, maka dalam waktu singkat saja tubuh penderita sudah
kelihatan sangat kurus.
Sedangkan diare menurut Prabu (2002:57) merupakan simtom, jadi bukan
penyakit, sama halnya dengan demam panas, bukan suatu penyakit tetapi
merupakan gejala dari suatu penyakit tertentu, contoh: malaria, radang, paru,
influinza, dan lain-lain.
Ada dua jenis diare menurut lama hari terjadinya yaitu diare akut dan diare
kronik. Diare akut adalah diare yang terjadi secara mendadak pada bayi dan anak
yang sebelumnya sehat serta berlangsung antara 3-5 hari. Sedangkan diare kronik
adalah diare yang berlanjut lebih dari 2 minggu, disertai kehilangan berat badan
atau tidak bertambahnya berat badan.
2.1.4.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Diare.
Kejadian diare pada bayi dapat di pengaruhi oleh beberapa faktor antara
lain:
20
1. Pemberian ASI eksklusif
Pemberian ASI eksklusif pada bayi sampai berusia 4-6 bulan, akan
memberikan kekebalan kepada bayi terhadap berbagai macam penyakit karena
ASI adalah cairan yang mengandung zat kekebalan tubuh yang dapat
melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi bakteri, virus, jamur dan
parasit. Oleh karena itu, dengan adanya zat anti infeksi dari ASI, maka bayi
ASI eksklusif dapat terlindung dari penyakit diare (Utami Roesli 2001:20).
2. Status Gizi.
Penderita gizi buruk akan mengalami penurunan produksi antibodi serta
terjadinya atropi pada dinding usus yang menyebabkan berkurangnya sekresi
berbagai enzim sehingga memudahkan masuknya bibit penyakit ke dalam
tubuh terutama penyakit diare (Sjahmiem Moehji, 2003:13).
3. Laktosa Intoleran.
Laktosa hanya dapat diserap oleh usus setelah dihidrolisis menjadi
monosakarida oleh laktosa, namun dalam keadaan tertentu aktivitas laktosa
menurun atau tidak ada sama sekali, sehingga pencernaan laktosa terganggu
dan laktosapun tidak dapat dicerna. Laktosa yang tidak dapat dicerna tersebut
akan masuk ke usus besar, dan di dalam usus besar ini akan di fermentasi oleh
mikro flora usus sehingga dihasilkan asam laktat dan beberapa macam gas.
Adanya produksi gas ini dapat menyebabkan diare.
2.1.4.3 Pencegahan Penyakit Diare.
Menurut Siti Habsyah Masri (2004:4), cara mencegah diare pada bayi yang
benar dan efektif yang dapat dilakukan adalah memberikan ASI sebagai makanan
21
yang paling baik untuk bayi. Komponen zat makanan tersedia dalam bentuk yang
ideal dan seimbang untuk dicerna dan diserap secara optimal oleh bayi. ASI saja
sudah cukup untuk menjaga pertumbuhan bayi sampai umur 4-6 bulan.
ASI steril, berbeda dengan sumber susu lain, susu formula atau cairan lain
disiapkan dengan air atau bahan-bahan yang terkontaminasi dalam botol yang
kotor. Pemberian ASI saja tanpa cairan atau makanan lain dan tanpa
menggunakan botol, menghindarkan anak dari bahaya bakteri dan organisme lain
yang akan menyebabkan diare. ASI mempunyai khasiat mencegah secara
imunologik dengan adanya antibodi dan zat-zat lain yang dikandungnya. ASI
turut memberikan perlindungan terhadap diare.
2.1.2 Hubungan Pemberian ASI secara Eksklusif dengan Kejadian Diare
Pada waktu bayi baru lahir secara alamiah mendapat zat kekebalan tubuh
dari ibunya melalui plasenta, tetapi kadar zat tersebut akan cepat turun setelah
kelahiran bayi, padahal dari waktu bayi lahir sampai bayi berusia beberapa bulan,
bayi belum dapat membentuk kekebalan sendiri secara sempurna. Sehingga
kemampuan bayi membantu daya tahan tubuhnya sendiri menjadi lambat
selanjutnya akan terjadi kesenjangan daya tahan tubuh. Kesenjangan daya tahan
tersebut dapat diatasi apabila bayi diberi ASI (Utami Roesli 2001:20).
Pemberian makanan berupa ASI sampai bayi mencapai usia 4-6 bulan, akan
memberikan kekebalan kepada bayi terhadap berbagai macam penyakit karena
ASI adalah cairan yang mengandung zat kekebalan tubuh yang dapat melindungi
bayi dari berbagai penyakit infeksi bakteri, virus, jamur dan parasit. Oleh karena
22
itu, dengan adanya zat anti infeksi dari ASI, maka bayi ASI eksklusif akan
terlindungi dari berbagai macam infeksi baik yang disebabkan oleh bakteri, virus,
jamur dan parasit.
Menurut Soekirman (1991) dalam (Wahyu W Bachtiar, 2000:3) bahwa ada
perbedaan yang signifikan antara bayi yang mendapat ASI eksklusif minimal 4
bulan dengan bayi yang hanya diberi susu formula. Bayi yang diberikan susu
formula biasanya mudah sakit dan sering mengalami problema kesehatan seperti
sakit diare dan lain-lain yang memerlukan pengobatan sedangkan bayi yang
diberikan ASI biasanya jarang mendapat sakit dan kalaupun sakit biasanya ringan
dan jarang memerlukan perawatan.
Hal tersebut didukung oleh hasil penelitian di Filipina yang menegaskan
tentang manfaat pemberian ASI ekskusif serta dampak negatif pemberian cairan
tambahan tanpa nilai gizi terhadap timbulnya penyakit diare. Seorang bayi yang
diberi air putih atau minuman herbal, lainnya beresiko terkena diare 2-3 kali lebih
banyak dibandingkan bayi yang diberi ASI Eksklusif (BKKBN, 2004:5).
Penelitian lagi juga menyimpulkan bila dalam dua bulan kehidupan bayi
tidak mendapat ASI eksklusif, maka bayi beresiko meninggal 25 kali lebih besar
akibat diare dibandingkan bayi yang mendapat ASI eksklusif (Admin 2004:1).
2.1.6 Kerangka Teori
Landasan teori diatas merupakan penjelasan dari kerangka teori sebagai
berikut:
23
Gambar 1
Kerangka teori penelitian
Keterangan :
= Ada hubungan dan diteliti.
= Ada hubungan namun tidak diteliti.
2.2 Hipotesis
Berdasarkan landasan teori dan perumusan masalah maka hipotesis dan
perumusan masalah maka hipotesis atau dugaan sementara yang dapat diajukan
yaitu: Ada hubungan antara pemberian ASI secara Eksklusif dengan kejadian
diare pada bayi usia 1-6 bulan di wilayah kerja Puskesmas Kedungwuni I
Pekalongan Tahun 2004/2005.
Kekebalan
tubuh
Status gizi
Pemberian
ASI
Eksklusif
Intoleransi
Laktosa
Kejadian
Diare
Pemenuhan
Kebutuhan
bayi
Penyakit
lain
Kebersihan
24
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Populasi Penelitian
Populasi penelitian ini adalah subjek penelitian, yaitu seluruh bayi yang
berusia 1-6 bulan di wilayah kerja Puskesmas Kedungwuni I Pekalongan tahun
2004/2005 yang berjumlah 94 bayi.
3.2 Sampel Penelitian
Sampel adalah sebagian subjek penelitian yang diambil dari populasi.
Dikatakan penelitian sampel apabila kita bermaksud menggeneralisasikan atau
mengangkat simpulan penelitian yang berlaku bagi populasi (Suharsimi
Arikunto,. 1996:117).
Teknik pengambilan sampel dilakukan melalui teknik purposive, yaitu
sampel dipilih berdasarkan pada suatu pertimbangan yang dibuat oleh peneliti
(Soekidjo Notoadmojo, 2000:89). Adapun kriteria populasi yang memenuhi
syarat menjadi sampel adalah sebagai berikut:
1. Status gizi bayi baik.
2. Bayi tidak mengalami intoleransi laktosa
3. Kebutuhan minum pada bayi terpenuhi.
Untuk memperoleh kriteria sampel yang diharapkan maka pengambilan
sampel dilakukan dengan memberikan kuesioner penyaring terlebih dahulu
kepada seluruh populasi, sehingga didapatkan sampel yang sesuai dengan kriteria
25
syarat sampel, dimana dalam penelitian ini diperoleh sampel sebanyak 50 bayi di
wilayah kerja Puskesmas Kedungwuni I Pekalongan tahun 2004/2005.
3.3 Variabel Penelitian
Variabel adalah obyek penelitian atau apa yang menjadi pusat perhatian
suatu penelitian (Suharsimi Arikunto, 1998:99). Adapun variabel dalam
penelitian ini adalah:
1. Variabel bebas (x)
Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi variabel lain yang sering
disebut independent variabel. Variabel bebas dalam penelitian adalah
pemberian ASI Eksklusif.
Skala : ordinal
Kategori:
a. Bayi dengan diberi ASI eksklusif
b. Bayi tanpa di beri ASI eksklusif.
2. Variabel terikat (Y)
Variabel terikat adalah variabel akibat yang sering disebut sebagai variabel
dependent. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kejadian diare.
Skala :o rdinal
Kategori:
a. Bayi dengan kejadian diare
b. Bayi tanpa kejadian diare
26
3.4 Rancangan Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksplanatory research, yaitu
penelitian yang dilakukan untuk menyoroti hubungan antara variabel-variabel
penelitian dan menguji hipotesis yang dirumuskan sebelumnya.
Metode yang digunakan oleh peneliti adalah metode survei dengan
pendekatan cross sectional, dimana informasi yang dikumpulkan pada suatu saat
tertentu. (Soekidjo Notoadmojo 2000:15)
3.5 Prosedur Penelitian
3.6.1 Persiapan Penelitian
1. Mengajukan surat ijin observasi pada jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat
selanjutnya surat ijin dibawa ke BAPPEDA ( Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah) Kabupatan Pekalongan, setelah mendapatkan ijin dari
BAPPEDA kemudian memberikan surat rekomendasi dari BAPPEDA kepada
Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan, selanjutnya setelah dari Dinas
Kesehatan Kabupaten Pekalongan memberikan ijin, kemudian meminta ijin
Kepala Puskesmas tempat dilaksanakannya survei.
2. Setelah survei selesai dilaksanakan kemudian peneliti siap melaksanakan
penelitian dengan terlebih dahulu mengajukan surat ijin penelitian pada
jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, selanjutnya surat ijin dari Jurusan
tersebut dibawa ke BAPPEDA ( Badan Perencanaan Pembangunan Daerah)
Kabupatan Pekalongan, setelah mendapatkan ijin dari BAPPEDA kemudian
memberikan surat rekomendasi dari BAPPEDA kepada KESBANGLINMAS
(Kesatuan Bangsa dan Pelindung Masyarakat), Kepala Dinas Kesehatan
27
Kabupaten Pekalongan, Kepala Camat Kedungwuni dan Kepala Puskesmas
Kedungwuni I.
3. Setelah mendapatkan ijin dari pihak terkait, langkah selanjutnya yaitu mencari
informasi dari bidan di tempat penelitian tentang jumlah bayi usia 1-6 bulan
yang berada di wilayah kerja Puskesmas Kedungwuni I serta jadwal
pelaksanaan Posyandu.
4. Menetapkan waktu pelaksanaan dari penelitian, dimana dalam hal ini
penelitian dilakukan selama 1 bulan.
3.6.2 Pelaksanaan Penelitian
1. Peneliti datang ke posyandu lebih awal dari jadwal yang sudah ditetapkan.
2. Setelah itu apa bila ada populasi yang sudah datang ke posyandu kemudian
peneliti memberikan kuesioner penyaring kepada populasi dengan terlebih dulu
mengutarakann maksud dan tujuan peneliti kepada responden. Setelah
kuesioner penyaring selesai diisi kemudian bila memenuhi syarat sampel maka
dilanjutkan kuesioner berikutnya, sebaliknya apabila tidak sesuai syarat sampel
maka pengisian kuesioner tidak dilanjutkan.
3.6 Teknik Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder.
1. Data primer
Data primer diperoleh melalui metode kuesioner. Metode kuesioner adalah
metode pengumpulan data melalui sejumlah pertanyaan tertulis untuk
memperoleh informasi tentang pemberian ASI Eksklusif dan Kejadian diare.
28
2. Data sekunder
Sumber data sekunder diperoleh melalui metode dokumentasi. Metode
dokumentasi dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui dan
mendapatkan data tentang jumlah bayi usia 1-6 bulan. Selain itu data
sekunder juga dapat diperoleh melalui hasil penelitian lain yang tersusun
dalam bentuk buku dan profil puskesmas tempat penelitian.
3.7 Alat Pengumpul Data
Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi:
dokumentasi dan kuesioner.
1. Dokumentasi
Dokumentasi yaitu alat pengumpul data dengan dokumen untuk mencatat data
yang dibutuhkan dalam penelitian. Data yang dapat diperoleh dengan alat
dokumentasi dalam penelitian ini berupa daftar bayi yang berusia 1-6 bulan
dan gambaran umum wilayah kerja Puskesmas Kedungwuni I Pekalongan.
2. Kuesioner
Kuesioner yaitu alat pengumpul data yang berupa pertanyaan-pertanyaan
tertulis. Dalam penelitian ini menggunakan tipe pertanyaan tertutup dan
terbuka yang dibuat berdasarkan indikator variabel.
Pemberian kode pada pilihan jawaban menggunakan simbol sebagai berikut:
a. Pilihan jawaban a simbol 0.
b. Pilihan jawaban b simbol 1.
29
Sedangkan untuk jenis pertanyaan terbuka pemberian kode sebagai berikut:
a. Di beri paket diberi simbol 0
b. ASI tidak cukup di beri simbol 1
c. Bayi tidak mau menyusu diberi simbol 2
d. Ibu bekerja di beri simbol 3
e. Di suruh orang tua ataupun mertua di beri simbol 5
3.8 Pengolahan Data
Cara pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan komputer yang
meliputi editing, koding, dan tabulating data.
1. Editing
Editing dilakukan untuk memeriksa kembali apakah pengisian hasil pengisian
kuesioner sudah lengkap. Editing ini dapat berupa koreksi terhadap kesalahan
angka, huruf ataupun konsistensi jawaban dari responden.
2. Koding
Setelah data diteliti, langkah berikutnya adalah memberi kode angka pada
pada atribut variabel untuk memudahkan analisis data.
3. Tabulasi data
Mengelompokkan data sesuai dengan tujuan penelitian, kemudian dimasukkan
ke dalam tabel yang telah ditetapkan.
30
3.9 Validitas dan Reabilitas Data
3.9.1 Validitas Instrumen
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevaliditan atau
kesahihan sesuatu instrumen. Suatu instrumen yang valid atau sahih mempunyai
validitas tinggi. Sebaliknya instrumen yang kurang valid berarti mempunyai
validitas rendah. Instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang
digunakan (Suharsimi Arikunto: 1998,160).
Berdasarkan hasil uji validitas angket dengan menggunakan program
komputer, pengambilan keputusan jika r hasil> r table, maka butir atau variabel
tersebut valid, sebaliknya jika r hasil < r tabel, maka butir atau variabel tersebut
tidak valid.
3.9.2 Reliabilitas Instrumen.
Reliabilitas adalah suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk
digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik
(Suharsimi Arikunto, 1998:170). Dikatakan variabel (handal) jika jawaban
seseorang terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu.
Berdasarkan hasil uji reliabilitas angket dengan menggunakan program
komputer, pengambilan keputusan jika r hasil> r table, maka butir atau variabel
tersebut valid, sebaliknya jika r hasil < r tabel, maka butir atau variabel tersebut
tidak reliabilitas (handal).
31
3.10 Analisis Data
Data yang diperoleh kemudian dianalisis, adapun analisis data
meliputi:
1. Analisis univariat
Analisis ini digunakan untuk menjelaskan masing-masing variabel yang
meliputi variabel bebas dan variabel terikat. Analisisnya meliputi analisis
persentase.
2. Analisis bivariat
Analisa ini digunakan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan pemberian
ASI eksklusif dengan kejadian diare. Karena variabelnya merupakan data
ordinal maka untuk analisanya digunakan uji Kendall’s tau_b dengan
program komputer.
Langkah-langkah analisis data (Singgih Santoso, 2000:232) sebagai berikut:
1. Pengisian data untuk masing-masing variabel yaitu pemberian ASI eksklusif
dan kejadian diare.
2. Setelah data selesai, pilih menu Analyze pilih sub menu Corelatte, lalu pilih
Bivariat.
3. Dari kotak dialog korelasi bivariat, untuk pengisian variabel masukkan
variabel yang akan dikorelasikan, kemudian untuk kolom Correlasi
Coeffiicient, pilih uji Kendall’s tau_b. Selanjutnya untuk test of signifikansi
pilih two tailed karena untuk mengetahui hubungan dua arah.
Untuk dasar pengambilan keputusan dapat dilihat pada bagian kedua out
put (kolom sig (2-tailed)) pada kendall’s tau_b, pada korelasi variabel kategori
32
ASI dengan kejadian diare apabila didapat angka probabilitas lebih kecil dari
0,05 maka Ho ditolak yang berarti ada hubungan antara pemberian ASI eksklusif
dengan kejadian diare, sebaliknya jika angka probabilitas lebih besar dari 0,05
maka Ho diterima yang berarti ada hubungan antara pemberian ASI eksklusif
dengan kejadian diare.
Untuk mengukur keeratan hubungan dapat dilihat berdasarkan besaran
angka. Sebagai pedoman sederhana, angka korelasi diatas 0,5 menunjukkan
korelasi yang cukup kuat sebaliknya, angka korelasi dibawah 0,5 menunjukkan
korelasi yang lemah.
Dengan uji kendall’s tau_b, dapat diketahui arah hubunganya. Tanda –
(negatif) pada out put menunjukkan adanya arah hubungan yang berlawanan,
yang berarti bayi yang diberi ASI eksklusif semakin sering terkena diare,
sedangkan tanda + (positif) menunjukkan arah hubungan yang sama, yang berarti
bayi yang diberi ASI eksklusif semakin jarang terkena diare.
33
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Data
Deskripsi data dalam penelitian ini ada 2 macam yaitu data mengenai
gambaran umum lokasi penelitian yang diperoleh dari dokumentasi Puskesmas
Kedungwuni I Pekalongan dan data mengenai karakteristik sampel yang terdiri
dari data mengenai pemberian ASI eksklusif dan kejadian diare pada bayi usia 1-
6 bulan di wilayah kerja Puskesmas Kedungwuni I Pekalongan. Data ini
diperoleh dari responden yang dalam hal ini yaitu ibu bayi di wilayah kerja
Puskesmas Kedungwuni I Pekalongan yang berjumlah 50 orang. Data tentang
pemberian ASI eksklusif diklasifikasikan dalam dua kriteria, yaitu di beri ASI
eksklusif atau tidak diberi ASI eksklusif, demikian juga untuk data tentang
kejadian diare diklasifikasikan menjadi dua kriteria, yaitu mengalami kejadian
diare dan tidak mengalami kejadian diare.
4.2 Hasil Penelitian
4.1.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian.
4.1.1.1 Keadaan Geografis.
Secara geografis wilayah kerja Puskesmas Kedungwuni I Pekalongan
mempunyai luas 2075,521 Ha, yang terdiri atas:
1. Tanah sawah : 578.000 Ha
2. Tanah kering : 807.069 Ha
34
3. Irigasi teknis : 616.000 Ha
4. Lain-lain : 74.452 Ha
Wilayah kerja Puskesmas Kedungwuni terdiri dari 9 desa dan 1 kelurahan
dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:
1. Sebelah utara :Berbatasan dengan wilayah Puskesmas
Kedungwuni II & Kecamatan Buaran
2. Sebelah Selatan :Kecamatan Wonopringgo & Kecamatan Doro
3. Sebelah Barat :Wilayah Puskesmas Kedungwuni II & Kecamatan
Wonopringgo.
4. Sebelah Timur :Kecamatan Karangdadap
Relief tanah sebagian besar adalah dataran rendah dengan ketinggian 10-
18m diatas permukaan air laut.
4.1.1.2 Lingkungan Fisik
Keadaan rumah penduduk sebagai tempat tinggal merupakan indikator
penting dalam menunjang tercapainya kesejahteraan masyarakat. Type rumah
penduduk pada tahun 2004 tercatat 65,58% rumah permanen, 26,43% semi
permanen dan 7,99% tidak permanen.
Air bersih yang digunakan sebagai air minum telah memenuhi syarat
kesehatan. Sumber air minum diperoleh dari sumur pompa tangan (50,99%),
sumur gali (26,8%), PAM (21,77%) dan 0,44% menggunakan sumber air lain.
35
4.1.1.3 Keadaan Penduduk
Jumlah penduduk wilayah kerja Puskesmas Kedungwuni I pada tahun 2004
sebanyak 47.106 jiwa yang terdiri dari laki-laki 23.027 jiwa dan perempuan
sebanyak 24.079 jiwa sedangkan sex ratio sebesar 1.
Jumlah bayi usia 1-6 bulan di wilayah kerja Puskesmas Kedungwuni I
adalah sebagai berikut:
Tabel 2
Jumlah Bayi Usia 1-6 Bulan Menurut Desa di Wilayah Kerja Puskesmas
Kedungwuni I tahun 2004/2005
No Nama Desa Jumlah Bayi
1 Pakis Putih 5
2 Rowo Cacing 4
3 Langkap 5
4 Tosaran 10
5 Pajomblangan 7
6 Proto 6
7 Kwayangan 8
8 Kedungwuni 27
9 Podo 13
10 Salak Brojo 9
Sumber: Register Posyandu Puskesmas Kedungwuni I 2005.
Angka beban tanggungan (dependency ratio) sebesar 51,9 % di peroleh
dengan menghitung jumlah penduduk usia produktif (15-64 th) dibandingkan
dengan jumlah penduduk usia (0-14 th) ditambah dengan usia > 64 tahun.
36
4.1.1.4 Upaya Pelayanan Kesehatan
Upaya pelayanan kesehatan di Puskesmas bertujuan untuk meningkatkan
fungsi Puskesmas yaitu pelayanan, pemerataan dan perluasan jangkauan serta
peningkatan peran serta masyarakat untuk tercapainya hidup sehat guna menuju
derajat kesehatan yang optimal.
1. Posyandu
Posyandu merupakan salah satu lembaga atau wadah partisipasi
masyarakat di bidang kesehatan di tingkat desa dengan pelayanan dasar paripurna
meliputi KB kesehatan dan sasaran utama adalah bayi, balita, ibu hamil, ibu
menyusui dan pasangan usia subur. Keadaan posyandu di wilayah kerja
Puskesmas Kedungwuni I adalah sebagai berikut:
a. Jumlah Posyandu seluruhnya 51 buah.
b. Rasio Posyandu perdesa : 5 buah
c. Jumlah Kader aktif : 157 orang
d. Rasio kader terhadap posyandu : 3 kader / posyandu
e. Rasio kader terhadap KK : 2 kader/100 KK.
2. Penyuluhan.
Program penyuluhan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan kepada
masyarakat tentang kesehatan. Penyuluhan di Puskesmas Kedungwuni I, waktu
pelaksanaanya di jadwalkan bersamaan dengan kegiatan Posyandu, sehingga
tidak sulit untuk mengumpulkan warga yang akan di berikan penyuluhan. Materi
yang pernah diberikan untuk penyuluhan selama tahun 2004 adalah tentang
37
penyakit Demam Berdarah dan polio serta penyuluhan tentang kesehatan gigi dan
mulut di Sekolah Dasar maupun Madrasah Ibtidaiyah.
4.1.1.5 Derajat Kesehatan.
Keadaan gizi masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Kedungwuni I Pada
tahun 2004 terutama pada status gizi balita, yang digolongkan status gizi baik,
gizi kurang dan gizi buruk. Status gizi tersebut diperoleh dari pemantauan hasil
penimbangan setiap bulannya di Posyandu.
Dari jumlah balita 3.378 status gizi adalah sebagai berikut:
a. Gizi baik : 3263 (96,57%)
b. Gizi kurang : 101 (3,17%)
c. Gizi buruk : 9 (0,27%).
4.1.2 Karakteristik.
4.1.2.1 Hasil Analisis Univariat.
4.1.2.1.1 Pemberian ASI Eksklusif.
0
10
20
30
40
50
60
70
80
ASI eksklusif ASI tidak eksklusif
Persentase
Gambar 2
Grafik distribusi sampel menurut Pemberian ASI Eksklusif
38
Distribusi sampel menurut pemberian ASI eksklusif, persentase tertinggi
pada sampel yang di beri ASI eksklusif sebesar 68% (34 sampel) dibandingkan
sampel yang tidak diberi ASI eksklusif sebesar 32% (16 sampel).
4.1.2.1.2 Jenis Kelamin
32
68
0
10
20
30
40
50
60
70
80
ASI eksklusif ASI tidak eksklusif
persentase
Gambar 3
Grafik distribusi sampel menurut jenis kelamin
Distribusi sampel menurut jenis kelamin, diperoleh bahwa sampel dengan
jenis kelamin wanita sebesar 58% (29 sampel), jumlah ini lebih besar bila
dibandingkan dengan sampel yang berjenis kelamin laki-laki yang jumlahnya
sebesar 42% (21 sampel).
4.1.2.1.3 Umur.
Distribusi sampel menurut umur diperoleh persentase terbesar terdapat
pada sampel yang berumur 3 bulan sebesar 28% (14 sampel), persentase terbesar
berikutnya terdapat pada sampel yang berumur 2 bulan sebesar 24% (10 sampel),
kemudian untuk sampel yang persentasenya paling kecil terdapat pada sampel
yang berumur 6 bulan yakni sebesar 4% (2 sampel).
39
14
24
28
22
8
4
0
5
10
15
20
25
30
1 bulan
2 bulan
3 bulan
4 bulan
5 bulan
6 bulan
Persentase
Gambar 4
Grafik distribusi sampel menurut kelompok umur
4.1.2.1.4 Distribusi Sampel menurut Kejadian Diare.
36
64
0
10
20
30
40
50
60
70
Diare Tidak Diare
persentase
Gambar 5
Grafik distribusi sampel menurut kejadian diare
Distribusi sampel menurut kejadian diare yang dikategorikan berdasarkan
frekuensi Buang Air Besar (BAB) & konsistensi tinja diperoleh bahwa persentase
tertinggi pada sampel yang tidak diare sebesar 64% (32 sampel) dibandingkan
sampel yang mengalami kejadian diare sebesar 36% (18 sampel).
40
4.1.2.1.5 Distribusi Sampel menurut Pemberian Kolostrum
6
94
0
20
40
60
80
100
tidak diberi
kolostrum
di beri kolostrum
persentase
Gambar 6
Grafik distribusi sampel menurut pemberian kolostrum
Berdasarkan 50 sampel yang diberi ASI, terdapat 94% (47 sampel) yang
diberi kolostrum, sedangkan sampel yang lain yaitu sebesar 6% (3 sampel).
4.1.2.1.6 Distribusi Responden menurut Alasan Tidak Diberikannya ASI
Eksklusif.
12
32
47
6
3
0 5
10
15
20
25
30
35
40
45
50
paket
bekerja
tidak cukup
bayi tidak mau
orang tua
persentase
Gambar 7
Grafik distribusi Responden menurut alasan tidak memberikan ASI Eksklusif.
Berdasarkan alasan 34 responden yang tidak memberikan ASI eksklusif
sampai bayi berumur minimal 4 bulan, persentase tertinggi pada bayi yang
beralasan bahwa ASI tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi yaitu sebesar
41
47% (16 ibu), kemudian alasan tertinggi berikutnya yaitu karena harus bekerja
32% (11 ibu), sedangkan 21% (7 ibu) lainnya yaitu karena diberi paket, bayi tidak
mau menyusu, dan disuruh orang tua.
4.1.2.1.7 Distribusi Responden menurut Kebersihan Persiapan Makanan
Pendamping ASI.
26
74
0
20
40
60
80
kurang baik
persentase
Gambar 8
Grafik distribusi responden menurut kebersihan penyediaan makanan atau
minuman pengganti ASI.
Distribusi 34 responden yang memberikan makanan pendamping ASI
kepada bayinya menurut kebersihan dalam penyediaan minuman atau makanan
pengganti ASI, diperoleh bahwa persentase pada responden yang kebersihannya
baik dalam mempersiapkan makanan atau minuman pendamping ASI sebesar
74% (37 responden) sedangkan sampel yang kebersihannya kurang,
persentasenya sebesar 26% (13 responden).
4.1.2.2 Hasil Analisa Bivariat
Hasil tabulasi silang pemberian ASI eksklusif dengan kejadian diare
diperoleh jumlah terbesar kejadian diare pada sampel yang tidak di beri ASI
42
eksklusif, sedangkan untuk sampel yang diberi ASI eksklusif dengan kejadian
diare hanya 1 sampel.
17 17
1
15
0
5
10
15
20
diare tidak diare
ASI tdk eksklusif
ASI eksklusif
Gambar 9
Grafik distribusi Pemberian ASI eksklusif menurut Kejadian Diare
4.1.2.3 Hasil Analisis Hubungan Pemberian ASI Eksklusif dengan Kejadian
Diare.
Analisa dilakukan dengan menggunakan uji Kendall’s tau_b karena kedua
variabelnya memiliki data yang berskala ordinal. Dari uji Kendall’s tau_b didapat
koefisien korelasi sebesar 0,425 dengan nilai signifikansi sebesar 0,003 (kurang
dari 0,05), sehingga dapat ditarik kesimpulan Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini
menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara pemberian ASI eksklusif
dengan kejadian diare.
4.3 Pembahasan
4.2.1 Gambaran Umum Wilayah Kerja Puskesmas Kedungwuni I
Pekalongan Tahun 2004/2005.
Keadaan wilayah kerja Puskesmas Kedungwuni I sebagian besar relief
tanah berupa dataran rendah dengan ketinggian 10-18 m diatas permukan air laut.
43
Keadaan rumah penduduk sebagai tempat tinggal masih ada yang belum
memenuhi persyaratan kesehatan, sebesar 7,99% belum memiliki rumah
permanen, namun demikian air bersih yang digunakan sebagai sumber air minum
telah memenuhi syarat kesehatan.
Upaya untuk mencapai keberhasilan pembangunan kesehatan bayi di
wilayah kerja Puskesmas Kedungwuni I dilakukan dengan dilaksanakannya
proram posyandu yang pelaksanaanya dilakukan 1 bulan sekali ditiap posyandu.
Program posyandu tersebut, didalamnya meliputi kegiatan penimbangan,
imunisasai dan penyuluhan. Namun, dari ketiga kegiatan yang terdapat dalam
Posyandu hanya kegiatan penimbangan dan imunisasi yang berjalan dengan
lancer, sedangkan penyuluhan jarang sekali dilakukan. Menurut tenaga kesehatan
bagian gizi dan KIA (Kesehatan Ibu dan Anak), penyuluhan yang sudah pernah
dilasanakan selama tahun 2004 hanya tentng penyakit Demam Berdarah yang
dilaksanakan oleh bagian P2M (Pemberantasan Penyakit Menular) dan
penyuluhan tentang kesehatan gigi dan mulut yang dilaksanakan di Sekolah Dasar
maupun Madrasah Ibtida’iyah.
Salah satu tolak ukur untuk menilai keberhasilan pembangunan kesehatan
dilihat dari pencapaian status gizi bayi dan balita. Dari data yang didapatkan,
balita yang status gizinya baik mencapai 96,55%. Sekilas angka pencapaian
tersebut sudah cukup baik, namun jika dilihat jumlah status gizi buruk balita juga
tinggi, maka hal ini perlu mendapatkan perhatian khusus.
44
4.2.2 Karakteristik sampel
Bayi yang diambil sampel adalah bayi yang berusia 1-6 bulan yang
berdomisili di wilayah kerja Puskesmas Kedungwuni I Pekalongan.
4.2.1.1 Pemberian ASI eksklusif
Berdasarkan hasil penelitian tentang pemberian ASI eksklusif terhadap 50
sampel, terdapat 68% (34 sampel) yang tidak diberi ASI eksklusif. Jumlah ini
lebih besar bila dibandingkan bayi yang diberi ASI eksklusif yaitu sebesar 32%
(16 sampel ).
Hasil pencapaian pemberian ASI secara eksklusif hingga saat ini belum
menggembirakan, karena masih jauh dari target yang ingin dicapai yaitu sebesar
80%. Hal ini sesuai dengan penelitian Unicef di Indonesia setelah krisis ekonomi,
dilaporkan bahwa hanya 14 % bayi yang disusui dalam 12 jam setelah kelahiran.
Kolostrum dibuang oleh kebanyakan ibu karena dianggap kotor dan tidak baik
bagi bayi. Unicef juga mencatat penurunan yang tajam dalam menyusui
berdasarkan tingkat umur, dari pengamatannya tercatat 63 % bayi disusui hanya
pada bulan pertama, 45 % bulan kedua, 30 % bulan ketiga, 19 % bulan keempat,
12 % bulan kelima dan hanya 6 % pada bulan keenam bahkan lebih dari 200.000
bayi atau 5 % dari populasi bayi di Indonesia saat itu tidak disusui sama sekali
(MM Novaria, 2005:1).
Penelitian lain dari hasil Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia
tahun 2002 menunjukkan bayi di Indonesia rata-rata hanya mendapat ASI
eksklusif sampai usia 1,6 bulan saja sedangkan bayi yang mendapat ASI sampai
usia 4-5 bulan hanya 14% (Admin, 2005:1).
45
Begitu juga penelitian terhadap 900 ibu disekitar Jabotabek (1995:2)
diperoleh fakta bahwa yang dapat memberikan ASI eksklusif selama 4 bulan
pertama kelahiran bayi hanya sekitar 5%, padahal 98% ibu-ibu tersebut menyusui
bayinya. Dari penelitian tersebut juga didapatkan bahwa 37,9% ibu-ibu tidak
pernah mendengar informasi tentang ASI sedangkan 70,4% ibu-ibu tidak pernah
mendengar informasi tentang ASI eksklusif (Utami Roesli, 2001:21).
Berdasarkan hasil penelitian penulis, ibu bayi yang merupakan responden
dalam penelitian ini mengungkapkan alasan mereka memberikan makanan atau
minuman selain ASI pada bayi yaitu 47% karena ibu merasa ASInya tidak cukup
untuk memenuhi kebutuhan bayi, 32% karena ibu harus bekerja serta 21%
lainnya karena sejak kelahiran bayi sudah diberi paket oleh bidan yang membantu
melahirkan bayinya, bayi tidak mau menyusu serta karena orang tua
menyarankan untuk segera memberi makanan agar bayi cepat besar.
Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Utami Roesli terhadap ibu-ibu yang
menghentikan pemberian ASI eksklusif kepada bayinya dilaporkan bahwa alasan
yang paling sering dikemukakan oleh masyarakat tidak memberikan ASI
eksklusif sampai bayi berusia minimal 4 bulan yaitu karena merasa ASI tidak
cukup untuk memenuhi kebutuhan bayinya walaupun sebenarnya hanya sedikit
sekali (2-5%) yang secara biologis memang kurang produksi ASInya. Alasan
berikutnya yaitu karena ibu bekerja untuk mereka beranggapan bahwa ASI saja
tidak cukup untuk kebutuhan hidup bayi, takut di tinggal suami, tidak di beri ASI
tetap berhasil “jadi orang”, takut bayi akan tumbuh menjadi anak yang tumbuh
manja (Utami Roesli, 2000:47).
46
Keadaan seperti ini benar-benar sangat menghawatirkan, oleh karenanya
ibu-ibu balita serta orang yang berpengaruh terhadap proses menyusui bayi perlu
ditekankan dan diberi penyuluhan agar memberikan ASI eksklusif kepada
bayinya sehingga dapat mengetahui tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif
pada bayinya serta dapat melaksanakannya, karena dengan memberikan ASI, bayi
bukan hanya mendapatkan makanan yang ideal, terbaik dan mudah dicerna oleh
sistem pencernaan bayi, namun juga mengandung zat kekebalan yang melindungi
bayi dari berbagai infeksi. (Depkes, 1997:11
4.2.1.2 Kejadian Diare
Diare dalam penelitian ini adalah suatu penyakit dengan tanda-tanda
adanya perubahan bentuk dan konsistensi tinja yang cair dan frekuensi buang air
besar lebih dari biasanya (3 kali dalam sehari) buang air hingga lima kali sehari
dan fesesnya lunak (Siti Habsyah Masri, 2004:1).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase pada sampel yang tidak
diare lebih tinggi dibandingkan persentase bayi yang diare. Tingginya persentase
bayi yang tidak mengalami kejadian diare ini dikarenakan ada beberapa faktor
yang mendukung diantaranya sebagian besar ibu memberikan kolostrum kepada
bayinya pada 24 jam pertama setelah kelahiran bayi, sehingga antibodi penting
yang terkandung dalam kolostrum dapat melindungi bayi dari berbagai macam
penyakit.
Hal ini sesuai dengan teori Machtinger and Moss (1996) dalam General
Java Online (2004:1), yang mengatakan bahwa pemberian ASI secara dini akan
membantu mencegah berbagai penyakit anak, termasuk gangguan lambung, diare,
47
dan saluran nafas pada anak-anak. Hal ini disebabkan adanya antibodi dalam
kolostrum dan ASI yang dapat melindungi bayi baru lahir dan mencegah
timbulnya alergi.
Faktor berikutnya yang mendukung tingginya persentase bayi yang tidak
mengalami kejadian diare yaitu karena kebersihan dalam menyiapkan makanan
atau minuman yang diberikan kepada bayi dapat terjaga dengan baik, sehingga
kemungkinan bakteri untuk dapat masuk ke dalam tubuh bayi lebih kecil bila
dibandingkan bayi yang mendapatkan makanan dengan kebersihan dalam
persiapan makanan kurang. Hal tersebut sesuai dengan yang dikatakan Nuraini
Irma Susanti bahwa gangguan diare pada bayi di bawah usia 4 bulan sering dapat
disebabkan karena makanan atau minuman yang dikonsumsi bayi sudah
terkontaminasi oleh kuman penyakit, namun dengan kemauan yang tinggi kuman
penyakit tidak dapat masuk ke dalam tubuh bayi apabila kebersihan selalu dijaga
dalam mempersiapkan makanan atau minuman bayi.
Faktor lain yang mendukung yaitu karena bayi yang dijadikan sampel
dalam penelitian ini semuanya berstatus gizi baik. Dalam keadaan yang demikian
tubuh mempunyai cukup kemampuan untuk mempertahankan diri terhadap
penyakit infeksi (diare). Hal ini sesuai dengan teori dari Syahmien Moehji
(2002:23) yang mengatakan bahwa antara keadaan gizi buruk dan penyakit diare
terdapat hubungan yang sangat kuat, sungguhpun sulit untuk mengatakan apakah
terjadinya gizi buruk akibat adanya diare ataukah kejadian diare disebabkan
keadaan gizi buruk.
48
4.2.3 Analisis Hasil Perhitungan Statistik Hubungan Pemberian ASI
Eksklusif dengan Kejadian Diare.
Hasil uji statistik menjelaskan adanya hubungan yang signifikan antara
pemberian ASI eksklusif dengan kejadian diare. Bila dilihat dari hasil tabulasi
silang bahwa bayi yang diberi ASI eksklusif lebih jarang terkena diare
dibandingkan bayi yang tidak diberi ASI eksklusif sampai usia minimal 4 bulan.
Hal ini karena ASI eksklusif memberikan kekebalan terhadap bayi seperti yang
diungkapkan dalam buku Departemen Kesehatan Jakarta (1997:2) yang
mengatakan bahwa keuntungan yang diperoleh dari pemberian ASI eksklusif
kepada bayi antara lain karena bayi akan mendapatkan zat kekebalan terhadap
berbagai penyakit yang disebabkan bakteri, virus jamur, dan parasit yang sering
menyerang manusia sehingga bayi dapat terhindar dari berbagai penyakit infeksi
terutama diare (Dep Kes, 1997:11). Selain itu, saluran pencernaan bayi mudah
mencerna ASI yang masuk ke pencernaan bayi karena ASI yang diminum bayi
mengandung enzim pencerna sehingga ASI dapat diserap dengan sempurna dan
tidak menimbulkan diare (Nuraini Irma Susanti, 2004:1).
Hasil penelitian ini sesuai dengan pernyataan dari Soekirman (dalam W
Bachtiar, 2000:1) yang mengemukakan bahwa ada perbedaan yang signifikan
antara bayi yang mendapat ASI eksklusif minimal 4 bulan dengan bayi yang
hanya diberi susu formula. Bayi yang diberikan susu formula biasanya mudah
sakit dan sering mengalami masalah kesehatan yang memerlukan pengobatan
sedangkan bayi yang diberikan ASI biasanya jarang sakit.
49
Hal tersebut didukung hasil penelitian di Filipina yang menegaskan
tentang manfaat pemberian ASI ekskusif serta dampak negatif pemberian cairan
tambahan tanpa nilai gizi terhadap timbulnya penyakit diare. Seorang bayi yang
diberi air putih atau minuman herbal lainnya beresiko terkena diare 2-3 kali lebih
banyak dibandingkan bayi yang diberi ASI Eksklusif (BKKBN, 2004:1).
Penelitian lain juga menyimpulkan bila dalam dua bulan kehidupannya
bayi tidak mendapat ASI eksklusif, maka bayi beresiko meninggal 25 kali lebih
besar akibat diare dibandingkan bayi yang mendapat ASI eksklusif (Admin,
2004:1).
50
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1. Simpulan
Berdasarkan pembahasan hasil penelitian dapat ditarik simpulan sebagai
berikut:
1. Bayi yang tidak diare persentasenya lebih tinggi bila dibandingkan bayi yang
mengalami kejadian diare.
2. Persentase tertinggi untuk pemberian ASI eksklusif ada pada bayi yang tidak
diberi ASI eksklusif.
3. Ada hubungan yang signifikan antara pemberian ASI eksklusif dengan
kejadian diare.
4. Ada hubungan yang lemah antara pemberian ASI eksklusif dengan kejadian
diare pada bayi usia 1-6 bulan di wilayah kerja Puskesmas Kedungwuni I
Pekalongan tahun 2004/2005.
5.2. Saran
Berdasarkan simpulan hasil penelitian diatas, saran-saran yang dapat
diberikan adalah sebagai berikut:
1. Bagi ibu-ibu balita di wilayah kerja Puskesmas Kedungwuni I harus berusaha
memberikan ASI eksklusif sampai bayi berumur minimal 4 bulan.
2. Bagi pengelola program gizi Puskesmas Kedungwuni I, diharapkan dapat
memberikan penyuluhan tentang ASI eksklusif kepada masyarakat, khususnya
kepada ibu-ibu balita di wilayah kerja Puskesmas Kedungwuni I.
51
3. Bagi setiap instansi ataupun pabrik serta tempat kerja lain diharapkan dapat
memberikan kelonggaran cuti melahirkan dan kemudian memberikan ijin
kepada pekerjanya untuk menyusui anaknya dalam waktu kerja.
4. Bagi peneliti perlu penelitian lebih lanjut mengenai variabel-variabel perancu
lain yang berhubungan dengan kejadian diare.
52
DAFTAR PUSTAKA
Admin. 2004. Dorong ASI eksklusif.

http://www.lycos.co.ok/budiw/index.php?m=200411-20k-22

BKKBN. 2004a. ASI Eksklusif Turunkan Kematian Bayi.

http://www.pikas.bkkbn.go.id/print.php?tid+2&rid=136-6k-sp

DB. Jellief. 2004. Kesehatan Anak di Daerah Tropis. Jakarta: Bumi Aksara.
Deddy Muchtadi. 1996. Gizi untuk Bayi: ASI, Susu Formula dan Makanan
Tambahan. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Dep Kes. 1997. Petunjuk Pelaksanaan Peningkatan ASI Eksklusif Bagi Petugas
Puskesmas. Jakarta: Dep Kes Jakarta.
Diah Krisnatuti dan Rina Yenrina. 2000. Menyiapkan Makanan Pendamping ASI.
Jakarta: Puspa Swara.
Dinas Kesehatan.2002. Diare. http://www.Dinkes-dki.go.id/penyakit.html
General Java Online. 2004. Pemberian ASI secara Dini dan Eksklusif.

http://www.sroggyn.www3.50megs.com/mnh/asi.html-9ksupplemental

Joan Nelson. 2001. Cara Menyusui yang Baik. Jakarta: Penerbit Arcan.
Nuraini Irma Susanti. 2004. Usia Tepat Mendapat Makanan Tambahan.

http://www.tabloit-nakita.com/artikel-ph3?edisi=0406rubrik

Prabu. 1996. Penyakit-Penyakit Infeksi Umum Jilid I. Jakarta: Widya Medika.
Profil Kesehatan Puskesmas Kedungwuni I Tahun 2004.
Singgih Santoso. 2004. Mengatasi Berbagai Masalah Statistik dengan SPSS
Versi 11.5. Jakarta: Penerbit PT Elex Komputindo.
Siti Habsyah Masri. 2004. Diare Penyebab Kematian 4 Juta Balita Per Tahun.

http://www.waspada.co.id/serba-serbi/kesehatan/artikel.,php?artikelid=

61175-35k
Sjahmien Moehji. 2002. Pemeliharaan Gizi Bayi dan Balita. Jakara: Bhratara.
______________. 2003. Ilmu Gizi 2. Jakarta: Penerbit Papas Sinar Sinanti.
53
Soekidjo Notoadmojo.2002. Metodelogi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka
Cipta.
Soetjiningsih. 1997. Seri Gizi Klinik ASI Petunjuk untuk Tenaga Kesehatan.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Sugiyono. 2002. Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Suharsimi Arikunto. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.
Sunoto. 2001. Di Balik Kontrovensi ASI- Susu Formula. Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia.
Utami Roesli. 2000a. Mengenal ASI Eksklusif. Jakarta: PT Elex Komputindo.
__________. 2001. Bayi Sehat Berkat ASI Eksklusif. Jakarta: PT Elex
Komputindo.
UNDP. 2004. Laporan Perkembangan Pencapaian Tujuan Pembangunan
Millenium Indonesia.
http://www.undp.or.id/pubs/imdg2004/BI/indonesiaMDG-BI Goal1-pdf
UNICEF. 2005. Rekomendasi tentang Pemberian Makanan Bayi pada Situasi
Darurat. Http://www. Who.
Or.id/ind/contents/aceh/pemberian%20makan%20bayi%20pada%20situ
asi%20bencana.pdf.
Wahyu WB. 2000. ASI, Anugerah Terindah yang Kadang Terlupakan.

http://www.indomedia.com/bpost/122000/18/opini/opini1.htm-10ksupplemental

54
55

Ditulis dalam Jurnal | Leave a Comment »